BMW Welt. Memberikan pengalaman brand terbaik didunia

BMW_Welt_1Brand Experience atau pengalaman suatu brand adalah satu hal yang sangat diperhatikan oleh BMW AG. Dengan memberikan suatu pengalaman tak terlupakan maka pelanggan senantiasa ingin kembali merasakan pengalaman tersebut. Hal seperti inilah yang membuat BMW memutuskan membangun BMW Welt. Fasilitas ini bukan sekedar merupakan ‘Showroom” terbesar didunia namun memang ditujukan bagi siapapun yang mengunjungi untuk bisa mengetahui secara dekat apa saja yang termasuk didalam lini produk BMW Group.

Hanya di BMW Welt kita dapat dengan leluasa menyentuh, mengambil gambar dan duduk didalam BMW, MINI, BMW Motorrad dan bahkan Rolls Royce terbaru. Hal yang mungkin tak terbayangkan dapat kita lakukan begitu saja. Ini menjadikan BMW Welt sangat menarik bagi siapapun yang merupakan penggila otomotif terutama BMW. Hal yang mendasari pembuatan BMW Welt adalah karena di Jerman sendiri pembelian kendaraan merupakan sesuatu yang sangat istimewa dan merupakan hal yang tak terlupakan dan ini yang dapat dikuasai oleh BMW dengan sangat baik pada saat mendesain BMW Welt tersebut.

BMW_Welt_intDi BMW Welt bukan hanya ajang display kendaraan namun juga diadakan atraksi-atraksi menarik pada jam-jam tertentu yang akan membuat memukau pengunjung ke BMW Welt. Dan hingga saat ini sudah sekitar 2,2 juta orang telah mengunjungi Welt.

Salah satu atraksi menarik dari BMW Welt adalah atraksi Stunt Riding dengan pengendara dari BMW Motorrad. Dengan menggunakan motor BMW GS1100 sang pengendara dengan lihai bermanuver didalam BMW Welt menunjukkan keahlian berkendara namun juga kekuatan dari kendaraan BMW Motorrad.

BMW_attraction_1Dengan cara naik turun tangga tanpa sedikitpun menurunkan kaki memberikan bukti kestabilan dan kekuatan motor BMW serta keahlian para pengendaranya. Dan yang harus diingat bahwa kita sebagai konsumen pun dapat memperbaiki tingkat keahlian berkendara dengan mengikuti BMW Driving / Riding Experience.

BMW_attraction_2Namun tujuan utama dari pembuatan BMW Welt adalah sebagai pusat penghantaran kendaraan BMW terbaru kepada para pelanggan dengan mengutamakan pemberian pengalaman memiliki kendaraan BMW terbaru yang tidak terlupakan. Karena yang diingat oleh BMW adalah bahwa pengalaman serah terima kendaraan baru adalah titik kesenangan tertinggi bagi seorang pelanggan dan tentu ini harus dapat dipenuhi sebaik mungkin.

Pada saat hari H tiba untuk menerima kendaraan. Kita akan diinformasikan oleh Sales Consultant untuk dapat mengambil kendaraan. Pada saat tiba di BMW Welt tidak serta merta langsung diserahkan namun melalui beberapa tahap yang dapat mengambil waktu 1/2 hari atau 1 hari dengan berbagai acara seperti tour keliling Welt, BMW Museum bahkan pabrik dimana kita bisa melihat secara langsung cara pembuatan kendaraan dan itu hanya dalam lingkup yang sangat dekat. Pada saat tiba acara puncak serah terima. Kita akan menuruni tangga dari ruang tunggu yang ada di lantai atas menuju Dek bawah tempat serah terima kendaraan. Tangga menuruni tangga adalah eksklusif bagi pelanggan yang mengambil kendaraan sehingga tidak akan terganggu oleh pengunjung BMW Welt pada umumnya.

handover_area_2Kendaraan yang akan kita ambil berada pada satu platform berputar sehingga menambah keistimewaan karena kita melihat kendaraan kita secara 360 derajat ditambah dengan latar belakang kantor pusat BMW. Setelah dilakukan penjelasan oleh petugas Hand Over maka kita diberikan yang disebut Victory Lap (mengelilingi wilayah handover) dan keluar melalu jalur khusus. Kendaraan siap menaklukkan jalanan Jerman dan kita bisa menikmati Eropa dengan kendaraan sendiri.

handover_area_1Ini menjadikan penyerahan kendaraan BMW sebagai pengalaman tak terlupakan. Namun bagi yang ingin mengalami pengalaman yang lebih eksklusif maka BMW ada layanan Premium handover dengan lounge khusus yang semakin menambah pengalaman tak terlupakan memiliki BMW terbaru. Seperti yang dapat dilihat di video dibawah ini dari sepasang suami istri dari Amerika Serikat yang membeli BMW 4 Series.

Walau kita merasa di Indonesia tidak ada hal seperti ini namun masalah penyerahan kendaraan secara khusus menjadi perhatian bagi BMW dan standar penyerahan yang tak terlupakan dapat diterapkan di dealer-dealer BMW setempat. Kita tunggu saja perkembangan dan juga ingin tahu apakah Anda juga menginginkan pengalaman tak terlupakan bila memiliki kendaraan baru.

 

 

 

Advertisements

Munchen tujuan utama bagi para penggila BMW

Mohon maaf bagi para pembaca atas keterlambatan artikel-artikel yang pernah saya janjikan. Belakangan ini saya mengalami kesibukan luar biasa didalam pekerjaan dan akhirnya harus memprioritaskan terlebih dahulu pekerjaan dibanding blogging.

Munchen, ibukota dari negara bagian Bavaria serta rumah bagi FC Bayern Munchen, Allianz Arena, Oktoberfest dan yang paling utama rumah dan tujuan utama bagi siapapun yang merupakan “petrolhead” serta penggila BMW.  Setelah menjemput BMW M135i di Garching bei Munchen yang berjarak kira-kira 17km dari kota Munchen maka saya langsung mencoba performa dari sang kendaraan sport kompak tersebut.

Waktu telah menunjukkan pukul 18 waktu setempat dan matahari baru akan turun pada pukul 21.00. Tentu waktu yang cukup untuk sedikit melakukan eksplorasi terhadap kota Munchen terutama mengetahui dimana letak BMW Welt dimana saya akan melakukan pertemuan dengan pihak BMW AG pada keesokan harinya. BMW_PullmanBeruntung jarak tempuh dari hotel ke BMW Welt hanya 4,4 km yang dapat ditempuh dengan waktu hanya 9 menit. Hal yang tidak terbayangkan dilakukan di Indonesia. Namun saya tetap merasa penasaran dengan BMW Welt serta BMW Museum dimana saya langsung berangkat menuju lokasi setelah istirahat sejenak dan mandi. (Cukup melelahkan perjalanan dari Frankfurt ke Munchen mengingat saya paginya sudah berangkat dari Stuttgart ke Frankfurt lalu ke Munchen yang secara total menempuh jarak 600km). Perjalanan dari hotel menuju BMW Welt merupakan yang sangat menegangkan karena baru untuk pertama kali ini saya akhirnya bisa melihat secara langsung markas besar dari Bayerische Motoren Werke.

BMW_HQDisini kita bisa melihat gedung empat silinder ikonik dari BMW ditambah dengan BMW Museum yang berada di sisi kiri depan dari kantor utama tersebut. Diseberang terdapat BMW Welt atau Dunia BMW yang mempunyai rancang bangun yang sangat modern dan dinamis. Menurut catatan desain dari BMW Welt diilhami oleh bentuk awan serta pusaran angin yang terdapat pada bagian depan BMW Welt.

BMW_Welt_1Yang menarik adalah kenyataan bahwa BMW Welt dibuat bukan hanya sekedar menampilkan semua lini produk dari BMW Group namun juga memberikan pengalaman yang sangat berbeda dalam hal melakukan pembelian kendaraan. Karena BMW Welt adalah showroom aktif dan disana kita dapat membeli kendaraan yang kita inginkan. Bahkan ada fasilitas European Delivery yang memberikan pelayanan ekstra bagi pelanggan yang ingin mengambil kendaraan yang telah dibelinya secara langsung di Munchen. Sayangnya fasilitas ini belum tersedia bagi pelanggan di Indonesia namun dapat dijadikan referensi bahwa membeli kendaraan merupakan suatu perjalanan dan juga pengalaman yang tidak terlupakan dan bukan sekedar serah terima kendaraan dan setelah itu kita dibiarkan tanpa petunjuk atau tidak dapat diberikan rasa kepemilikan dari brand tersebut (brand ownership experience)  Ini adalah satu hal yang sangat dipahami oleh BMW Group dengan membangun BMW Welt.

Saya akan mencoba menggambarkan dalam detail perjalanan di BMW Welt pada artikel-artikel berikut.

 

 

Frankfurt menuju Munchen dan menjemput BMW M135i

Setelah menerima SPLP dari Konsulat Jendral RI di Frankfurt menuju ke BMW Press Service Center di Garching bei Munchen yang merupakan kota diluar Munchen.

Maps FRA-MUNPerjalanan membutuhkan setidaknya 3 jam, 29 menit dan melalui E41 dan A9. Setidaknya  saya sudah merasa tenang dengan adanya SPLP dan saya berusaha menikmati perjalanan berikutnya. Perjalanan sejauh 400km tentu akan membuat perjalanan sedikit membosankan sehingga saya memutuskan untuk setidaknya berusaha melihat beberapa objek wisata yang mungkin menarik untuk dilihat.

Kebetulan hal pertama yang menjadi ketertarikan saya ada satu papan besar di pinggir Autobahn yang bertuliskan Schloss Johannisburg. Dan ini membangkitkan rasa keingintahuan saya mengenai kota Aschaffenburg serta kastil tersebut. Navigasi pada BMW Connected Drive saya coba tempatkan kepada Point of Interest di Area yang saya berada dan ada informasi yang cukup jelas mengenai Johannisburg. Ditambah adanya Google Search semakin membantu dalam menuju tempat tersebut.

Aschaffenburg adalah kota yang sangat tua dan bahkan muncul didalam catatan Kaisar Otto II di 974 SM, ada beberapa gedung bersejarah di Aschaffenburg yaitu Stiftsbasilika yang telah tercatat di abad ke-10 serta Pompejanum yang dibangun oleh Kaisar Ludwig I di abad ke-19 yang didasarkan atas sebuah villa “Castor dan Pollux” di Pompei.

Yang paling mengesankan di Aschaffenburg adalah kastil Johannisburg yang dibangun pada tahun 1605-1614 oleh Georg Ridinger dan menjadi rumah resmi kedua bagi para Uskup dan Prinz-Elector dari Mainz hingga 1803, dari 1814 maka Johannisburg menjadi kediaman dari keluarga kerajaan Bayern dan ini bertahan hingga 1908 yang merupakan akhir dari kerajaan Bayern. Bangunan Johannisburg sendiri terbuat dari batu pasir merah (red sand stone) yang merupakan khas untuk daerah ini.

johannisburgBangunannya sendiri terdiri dari empat sisi dengan empat menara pada setiap sudut. Satu hal yang istimewa adalah keasrian alam yang dipertahankan di kota ini serta iklim yang menyenangkan sehingga wajar menjadi kota yang paling disenangi oleh Kaisar Ludwig I.

Aschaffenburg__johannisburg_sideSatu hal yang menarik dari kastil Johannisburg ini adalah koleksi maket dari bangunan-bangunan bersejarah zaman romawi yang terbuat dari gabus. Dan semuanya ada didalam museum nasional yang ada di kastil ini. Satu hal yang menarik juga adalah kenyataan bahwa kastil ini sempat terbakar habis dan rusak berat pada saat Perang Dunia Kedua oleh bom-bom Sekutu serta perperangan dalam kota. Namun pemerintah Jerman memutuskan diperlukan pengembalian keindahan kastil ini dan dibangun kembali serta dibuka untuk umum pada tahun 1964.

Aschaffenburg__johannisburg_parkSelain Johannisburg yang menjadi hal yang menarik mengenai Aschaffenburg adalah bahwa dia merupakan Kota pusat kebudayaan bagi Jerman dan mempunyai arsitektur kota lama yang sangat menarik dan terpelihara dengan baik. Jalan-jalan kecil yang memberi pemandangan yang sangat berbeda bagaikan melewati kapsul waktu. Aschaffenburg__city_CenterBangunan-bangunan lama memberikan suasana yang sangat berbeda bagi kota kebudayaan ini, satu hal disayangkan di Indonesia dimana bangunan lama justru dirontokkan demi keuntungan komersial seperti Mall.

Bangunan dengan arsitektur khas Jerman memberikan suasana yang bagaikan memasuki buku cerita Grimm dan membuat kita semakin penasaran berusaha menelusuri seluk beluk kota lama. Satu hal yang menjadi surga bagi para fotografer atau penjelajah yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai sejarah suatu kota.

Aschaffenburg__city_Center_2Sebagai kota budaya maka banyak sekali event yang dilakukan di Aschaffenburg dan ada juga teater kota Aschaffenburg yang berarsitektur modern namun dapat dikombinasikan dengan arsitektur kota lama.

Aschaffenburg_TheatreSebagai tempat tinggal bagi para Uskup dan Prinz-Elector dari Mainz maka tidak mengherankan bahwa lambang dari kota Aschaffenburg adalah kastil Johannisburg dengan Uskup. Dan pentingnya kota ini bagi para uskup terlihat juga dari banyaknya bangunan gereja di Ashaffenburg. Salah satunya Stiftsbergbasilika yang didirikan pada abad ke-10 dan merupakan pusat dari biara St.Peter dan Alexander. Hingga 1803 dia menjadi lambang kekuatan spiritual dari para Uskup dan Prinz Elector dari Mainz.

Aschaffenburg__Old_ChurchBasilika ini sudah berdiri selama 1000 tahun sehingga merupakan hal yang sangat luar biasa bisa melihat gedung yang sangat bersejarah.

Aschaffenburg__statueSelain menjadi kota yang sangat penting bagi para Uskup serta menjadi kota kebudayaan, Aschaffenburg juga mempunyai karakter yang sangat bersahabat bagi pengunjung ditambah dengan jumlah pub, cafe, wine bar dsb tertinggi di Bayern. Ditambah dengan karakter kota tua semakin memberi suasana hangat dan romantis serta bisa menjadi hal yang tidak terlupakan bila kita sedang mengunjungi dengan pasangan kita.

Aschaffenburg__Old_Ally_2 Aschaffenburg__Old_AllyYang pasti bila ada waktu yang lebih panjang tentu saya ingin mencoba eksplorasi kota ini lebih mendalam untuk beberapa hari.

Aschaffenburg_X3Warna Deep Sea Blue di BMW X3 xDrive20d ternyata masih cocok dengan suasana kota Aschaffenburg dan mungkin karena dikaruniai oleh cuaca yang bersahabat semakin membuat saya bersemangat dalam melaksanakan road trip ini.

Perjalanan dari Aschaffenburg menuju ke Garching berjalan biasa saja, tidak ada hal yang menarik yang membuat saya berhenti dan mencoba melihat Google Search tidak ditemukan hal-hal yang menarik mata atau minat untuk berhenti. Jadi perjalanan dilanjutkan ke BMW Press Service Center untuk menjemput BMW M135i yang menjadi kendaraan pengganti selama di Munchen.

BMW_press_centerBMW_M_135_I

Kehilangan Paspor di negeri orang. Mimpi buruk yang bisa saja terjadi

Satu hal yang tidak ingin dialami oleh turis manapun adalah kehilangan paspornya pada saat dia berada diluar negeri.  Dan hal ini terjadi pada saya di saat sedang ada di Jerman pada hari Minggu sedang mengunjungi teman. Saya sendiri tidak tahu hilangnya bagaimana, dimana dan sampai saat ini tidak ada kabar dari paspor saya tersebut.  Satu hal yang saya juga baru ketahui adalah bahwa ternyata paspor Indonesia masih termasuk lumayan mahal bagi para pencuri identitas dan cukup laku.

Jadi langkah apa yang harus dilakukan kalau kita kehilangan paspor? Yang pasti segeralah lapor Polisi terdekat karena kita harus mendapatkan surat keterangan agar dapat mengurus paspor sementara di Konsulat atau Kedutaan Besar RI di negara kita berada. Mudah kan. Hmmm ternyata tidak bagi saya.

Sekembali dari Koblenz saya langsung bertanya kepada pihak hotel dimana kantor Polisi terdekat dan ternyata ada sekitar 2km dari hotel saya sebuah Pos Polisi atau Polizei Revier atau secara harfiah bisa dikatakan Polisi Wilayah yang bertanggung jawab terhadap warga sekitar dan termasuk yang dikenal warga. Jadi saya menuju ke Polizei Revier di Stuttgart dan berbicara dengan petugas piket seorang Polwan. Masalah pertama yang timbul ternyata tidak semua Polisi di Jerman bisa bahasa Inggris. Sangat berbeda dengan di Belanda dimana rata-rata fasih berbahasa Inggris.

Saya masih beruntung masih dibekali dengan bahasa Jerman yang cukup lumayan dan campur dengan bahasa Belanda. Saya jelaskan bahwa saya telah kehilangan paspor dan membutuhkan surat keterangan dari Kepolisian agar dapat saya urus ke Konjen di Frankfurt atau sebagai bukti bahwa saya kehilangan identitas kalau saja ada razia polisi pada saat saya sedang berkendara. Ternyata timbul masalah kedua, menurut petugas mereka tidak bisa mengeluarkan surat keterangan seperti itu karena kehilangan identitas bukanlah hal yang kriminal dan merupakan kecerobohan. Dan mereka hanya bisa mencatat bahwa saya kehilangan paspor dan akan menelpon ke hotel atau HP bila ada yang menemukan. Tentu saya berdiri disana bak petir disiang bolong. Bagaimana mungkin Kepolisian tidak bisa berikan surat keterangan bahwa ada yang kehilangan paspor. Namun petugas tetap bersikukuh untuk tidak memberikan.

Setelah saya memberikan laporan dan kopi paspor (untung ada) maka saya kembali ke hotel dan coba rencanakan untuk jam berapa saya harus berada di Konjen RI di Frankfurt. Waktu buka Konsulat adalah dari jam 9.30-12.30 dan saya berada 208km dari Frankfurt atau butuh perjalanan 2 jam menuju kesana. Saya rencankan berangkat jam 08.00 agar sampai jam 10.00. Ternyata hal ini meleset karena sepanjang jalan banyak sekali perbaikan dan konstruksi, ya sama seperti pembangunan tanpa henti di Pantura namun ini masih terlihat lebih tertib.

Setiba di Konjen RI di Frankfurt saya langsung menuju ke bagian paspor yang Alhamdulillah lagi sepi dan menjelaskan apa yang terjadi. Dan masalah ketiga yang keluar. Konsulat meminta saya untuk tetap menunjukkan surat keterangan Kepolisian bahwa saya kehilangan paspor. Masalah yang lain timbul adalah karena saya masuk via Belanda maka menurut Konjen harusnya saya minta ke Kedutaan Besar RI di Den Haag, Belanda dan sempat saya pikir mungkin lebih mudah seperti itu, tapi mengingat saya masih ada 1 minggu di Jerman saya tidak mau ada risiko diperiksa kemudian dinyatakan sebagai imigran gelap lalu ditahan.

Akhirnya konsulat mengatakan coba minta ke Polisi yang ada di Hauptbahnhoff (Stasiun Utama)di Frankfurt. Saya langsung bergegas menuju ke Hauptbahnhoff karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 dan jam 12.30 Konsulat akan tutup. Yang membuat saya semakin was-was adalah tingginya kehadiran Polisi di sekitar Hauptbahnhoff dan takutnya akan ada pemeriksaan atau razia.  Ternyata ada ancaman bom  di sekitar situ sehingga Polisi berada pada tingkat sangat waspada.

Sesampai di Hauptbahnhoff saya mencari kantor Polisi dan menemukan satu dengan nama Bundespolizei. Saya sendiri tidak mengerti apa yang dimaksud tapi saya coba mencari keterangan. Yang membuat kita merasa seperti terhina adalah bahwa kita harus menerangkan keadaan kita dengan berbicara melalui tiang bukan bertemu dengan petugas piket. Dan masalah keempat akhirnya timbul dimana Polisi mengatakan mereka tidak mengeluarkan surat seperti itu dan diharapkan pergi ke Tourist Information untuk meminta surat keterangan hilang……??????? semakin bingung.

Tentu saya semakin bingung dan dengan berat hati saya menuju ke Tourist Information untuk meminta surat keterangan hilang, dan masalah berikut yang timbul adalah petugas Tourist Information kebingungan bahwa kok ada turis minta surat keterangan hilang ke mereka dan dikatakan bahwa saya harus ke Polisi.. ini membuat saya semakin frustasi dan saya katakan saya sudah dari polisi di Stuttgart, di Frankfurt dan semua bilang tidak diberikan. Akhirnya petugas menawarkan bantuan untuk menanyakan kepada Polisi Kota (Stadtpolizei Frankfurt) apakah surat tersebut dikeluarkan dan tebak apa jawaban dari Stadtpolizei…sama…tidak mengeluarkan surat keterangan.

Ini membuat saya semakin putus asa dan terlihat bahwa saya akan luntang lantung di Eropa, walau menggunakan BMW X3 :P, tentu petugas informasi masih coba membantu dengan menanyakan kepada Konjen RI dan menjelaskan hal tsb dan birokrasi Konjen pada awalnya masih kukuh untuk meminta surat keterangan. Akhirnya setelah dijelaskan oleh petugas informasi saya diminta pihak Konjen untuk kembali.

Setelah dipingpong berkali-kali akhirnya saya kembali ke Konjen RI dan menjelaskan bahwa saya sudah berusaha dan tidak ada hasilnya. Memang nasib baik akhirnya Konjen RI mengalah dan memberikan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) atau paspor sementara agar saya bisa aman dalam perjalanan saya namun diharuskan membuat surat keterangan. Saya hanya membayar 5 Euro untuk SPLP tersebut serta meterai.

Ada beberapa hal yang harus kita sediakan atau siapkan kalau kita mau travelling

1. Copy paspor dan copy visa (sebaiknya copy tersebut juga disimpan secara elektronik dan di email ke kita sebagai back-up agar bisa kita print di negara kita berada, terutama bila kita dapat visa sebaiknya dikopi agar pada saat kita keluar tidak dipermasalahkan).

2. Pasfoto ukuran paspor (3,5 x 4,5) sebaiknya kita sedia karena ternyata berguna kalau kita ada sesuatu seperti pembuatan SPLP ini. Daripada harus repot mencari mesin pembuat pasfoto. (tadinya saya tidak mau membawa sisa pasfoto namun adik saya mengatakan siapa tahu perlu dan akhirnya memang diperlukan)

3. Sedia meterai Rp 6000. Siapa tahu kita diminta buat surat pernyataan. Lumayan daripada harus bayar meterai sebesar Euro 2 padahal harga meterai Rp 6000.

4. Tetap tenang dan segera hubungi Konjen RI atau KBRI serta Kepolisian setempat bila ada masalah.

SPLP

Koblenz…kota nan Indah dengan banyak sejarah dan awal dari trip yang tidak terlupakan

Perjalanan saya di Jerman bermula dari Stuttgart dan dalam rencana saya harus berada di Munchen pada hari Senin untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang sudah diatur oleh BMW Indonesia. Karena ini adalah hari Minggu dan saya sudah melakukan tur keliling Porsche Museum serta masih ada waktu untuk menguji Porsche Panamera 4S yang dipinjamkan Porsche AG selama di Stuttgart, maka saya coba menghubungi teman adik saya yang kebetulan tinggal di Koblenz, Jerman.

Koblenz sendiri adalah kota yang cukup tua dan sudah ada sejak zaman Romawi kuno bahkan Julius Caesar mencapai sungai Rhine dan membangun jembatan diantara Koblenz dengan Andernach yang diberi nama ‘Casstelum apud Confluentes”. Nama Koblenz sendiri berasal dari kata latin Confluentes yang berarti pada bergabungnya dua sungai yaitu Sungai Rhine dan Sungai Mosel.

map_koblenzPerjalanan dari Stuttgart ke Koblenz membutuhkan waktu kira-kira 2 jam 49 menit dengan jarak 246 km. Tentu saya berpikir dengan menggunakan Panamera pasti akan lebih cepat dan bisa merasakan penjelajahan jarak jauh. Sayangnya saya tidak menemukan cuaca bagus pada saat saya berangkat. Mulai dari Stuttgart keadaan hujan dan bisa dikatakan hujannya bahkan seperti di Indonesia dengan hujan sangat deras. Memasuki Autobahn juga tidak berbeda karena kecepatan dibatasi sampai 130 karena takut licin dan sudah diatur oleh Polisi di Jerman. Tapi dengan hujan yang deras ternyata memungkinkan untuk tes salah satu fitur pada Panamera 4S yaitu Active Cruise Control dimana pada bagian depan terdapat suatu RADAR yang mendeteksi berapa jarak ke kendaraan di depan. Dan ini sangat berguna pada saat memasuki Autobahn dengan keadaan hujan deras, kecepatan tinggi dan mempunyai jarak pandang terbatas. Sistem ini langsung memberi peringatan dengan menunjukkan adanya kendaraan di depan dan akan melakukan pengereman secara otomatis kalau didepan terlalu dekat. Di Indonesia mungkin akan mubazir karena terlalu banyak kendaraan didepan kita.

Setiba di Koblenz saya menuju ke kota Vallendar yang berada di seberang Koblenz dan merupakan district yang cukup menarik karena terletak diatas bukit, disini saya harusnya menjumpai teman adik saya Cicih untuk Lunch bersama keluarganya, namun seperti kebiasaan orang Indonesia terlambat maka mereka sudah meninggalkan saya. Ternyata makan siangnya di kota Koblenz di Poseidon Restaurant yang merupakan resto Yunani. Saya langsung menuju ke Koblenz dan setelah mencari akhirnya saya menemukan tempatnya dan bertemu dengan keluarga Morowietz untuk makan siang bersama. Selesai makan siang disinilah hal yang tidak terlupakan yang terjadi. Pada saat kembali ke kendaraan dan memindahkan satu amplop yang berisi dokumen perjalanan saya. Saya tersadar kok sepertinya ada yang hilang. Dan ternyata yang hilang adalah dokumen terpenting kalau kita melakukan perjalanan yaitu Paspor.

Tentu saya panik bukan main karena masih lama agenda saya di Eropa dan tanpa paspor saya tidak bisa pulang dan mungkin seperti dikatakan saudara saya bisa saja memang diharuskan tinggal di Eropa untuk selamanya. Namun beruntung masih ditenangkan oleh Cicih dia bilang Nasi sudah jadi Bubur kenapa tidak coba nikmatin saja liburan ini dan besok bisa diuruskan ke konsulat atau KBRI.  Dan saya rasa itu adalah hal terbaik karena percuma juga kita cari kalau hilangnya entah dikota mana.

So kita coba berjalan menikmati kota Koblenz yang tua dan berawal dari Festung Ehrenbreitstein yang berada di seberang Koblenz dengan menggunakan Gondola (Cable Car) yang merupakan penghubung antar kedua bagian. Festung Ehrenbreitstein dapat ditelusuri hingga tahun 1000SM jadi sebenarnya termasuk kastil yang sangat tua.

Deutsche EckBerhubung cuaca hujan maka ini adalah gambar terbaik yang dapat diberikan. Yang menarik adalah bahwa Koblenz terletak di antara dua sungai yaitu Sungai Rhine dan Sungai Mosel. Dan pada ujung pertemuan kedua sungai ada salah satu sudut yang menarik yang disebut Deutsches Eck atau sudut Jerman. Pada tahun 1897, sembilan tahun setelah meninggalnya Kaisar Jerman Wilhelm I, maka dia diberi penghargaan dengan didirikan patung raksasa dengan saduran puisi Jerman yaitu “Nimmer wird das Reich zerstöret, wenn ihr einig seid und treu” (Kekaisaran tidak akan runtuh, selama kalian bersatu dan loyal). Tulisan lain dapat ditemukan dimana patung ini didedikasikan kepada “Wilhelm der Große” (William the Great).

Koblenz_8Setelah terbentuknya Republik Federasi Jerman dan Republik Demokratik Jerman di tahun 1949, maka negara tersebut dibagi dua menjadi kapitalis Barat dan komunis Timur. Dengan harapan menjadi simbol persatuan maka Presiden Theodor Heuss merubah Sudut Jerman menjadi monumen untuk penyatuan Jerman. Sebagai hasilnya maka lambang semua negara bagian Jerman termasuk wilayah bekas Jerman yaitu Silesia, Prusia Timmur dan Pomerania.  Pada saat itu patung Kaisar Wilhelm rusak oleh pengeboman sekutu dan diganti dengan bendera Jerman.

Setelah tembok Berlin runtuh di November 1989 maka tiga bagian dinding ditempatkan disamping monumen dan lambang dari negara bagian yang baru ditambahkan pada bulan October 1990. Pada tahun 1993, patung Kaisar Wilhelm dipasang kembali setelah dilakukan proses replikasi produksi pada tahun 1992.

Dari Deutsches Eck kita berjalan kembali ke kota tua dan kita lihat banyak peninggalan dari kebesaran Koblenz dan juga keindahan Arsitektur memang disayangkan keadaan hujan. KoblenzAda satu alun-alun bernama Jesuit Square dimana masih ada gereja Jesuit yang kini menjadi balai kota dari Koblenz. Kita bisa melihat bahwa Koblenz merupakan salah satu kota yang juga sangat religius pada waktu itu.

Koblenz_5Kalau kita tahu di Brussel ada Manneken Pis (Anak lelaki yang kencing) maka di Koblenz mereka juga mempunyai hal yang mirip namun dalam rupa anak lelaki yang akan menyemperot pengunjung dengan air.

Koblenz_4Untung saya tidak kena semprot apalagi suhu pada saat itu berkisar 8 derajat celcius dan perjalanan saya masih jauh kembali ke Stuttgart.

me_koblenz

 

Koblenz_7

Di salah satu sudut ditemukan Perpustakaan Kota yang lama dan ternyata dulu rusak setelah dibom oleh sekutu namun sudah direnovasi sehingga terlihat seperti baru.

Koblenz_6

Salah satu sudut kota yang cukup indah dan bisa dikatakan pantas untuk dieksplorasi lebih mendalam, apalagi kalau kita melakukan perjalanan bulan madu hehehehee…..
Koblenz_2

Salah satu sudut taman yang indah. Koblenz_3

Dan kita lihat sayangnya karena hujan maka tidak banyak yang bisa dinikmati atau ditanyakan kepada masyarakat perihal kota Koblenz.

Yang pasti saya sangat senang bisa mampir ke Koblenz dan Vallendar dan juga terima kasih banyak kepada Cicih dan Keluarga yang membantu dalam mencari paspor yang hilang serta juga hospitality yang sangat tinggi serta jalan-jalan yang menarik walau dalam keadaan hujan dan dingin. Moga-moga bisa kembali lagi dan eksplor lebih mendalam mengenai kota indah ini.

 

 

 

 

 

Mengawali perjalanan Amsterdam-Stuttgart, menjemput X3 di BMW Amsterdam.

AmstedamAkhirnya saya berkesempatan untuk menulis perjalanan saya selama di Eropa selama 2,5 minggu. Baik suka dan dukanya. Walaupun banyak merasa saya sangat beruntung bisa jalan-jalan dan mencoba kendaraan terbaru di Jerman dan Belanda namun masih ada beberapa suka dan dukanya. Setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Jakarta menuju Amsterdam dengan pesawat KLM. Maka saya tiba pada pagi hari jam 06.00 di Amsterdam. Cuaca juga masih sangat dingin yaitu 8 derajat celcius dan berkabut. Seperti yang terlihat di gambar yang diatas. Agak suram, dingin dsb. Dan bahkan dikatakan ini adalah bulan Mei terdingin di Belanda selama 120 tahun.

Minggu pertama ini adalah untuk memenuhi undangan konferensi serta rapat untuk pekerjaan saya. Setelah pekerjaan selesai baru hal-hal yang menyenangkan yang akan dilakukan. Saya tentu sudah tidak sabar menunggu hari Jumat dimana saya bisa menjemput kendaraan yang akan membawa saya dalam perjalanan panjang dari Amsterdam menuju Munchen. Singkat cerita, karena masalah konferensi akan membosankan, tibalah kita pada hari Jumat 24 Mei 2013 dimana saya diminta oleh BMW AG menjemput kendaraan di dealer BMW Amsterdam yang terletak di Pieter Braaijweg 2, Amsterdam Amstel Business Park.

BMW Dealer Amsterdam_2Kebetulan Jum’at itu cuaca sedikit cerah dan saya bisa melihat dengan jelas seperti apa standar dealer BMW yang ada di Eropa. Kalau dilihat sangat berbeda dengan di Indonesia dimana BMW Amsterdam menggunakan konsep full glass seperti sebuah gallery atau hanggar dimana kita bisa melihat hampir semua tipe BMW yang dijual dan ini mungkin pertama kali saya lihat sebuah dealer dengan begitu banyak pilihan BMW.

BMW Dealer AmsterdamBMW Amsterdam juga bergabung dengan dealer MINI Amsterdam sehingga terlihat ini adalah dealer yang cukup besar. Selain BMW dan MINI baru. Dealer ini merupakan salah satu dealer bagi BMW M serta juga melayani BMW Premium Selection yang merupakan kendaraan bekas BMW yang diperiksa secara seksama dengan 72 kriteria.  Kalau kita lihat didalam gambar maka bagian yang terparkir kendaraan dinamakan “Het Dek” atau bisa disebut Anjungan dalam bahasa Indonesia. Dimana semua kendaraan BMW dalam hal serah terima servis ataupun penyerahan kendaraan baru dilakukan diatas “Dek” tersebut. Tujuannya agar pelanggan serta sales consultant atau service advisor dapat memberikan keterangan yang jelas perihal kendaraannya. Tentu dek ini juga sangat leluasa untuk kita bergerak.

Memasuki dealer BMW Amsterdam saya disambut oleh resepsionis yang ramah yang langsung mencoba membantu mencarikan PIC dimana saya harus menerima kendaraan. Tentu diminta menunggu dengan hidangan Capuccino yang sangat nikmat. Sambil menunggu saya coba mengamati seperti apa dealer BMW Amsterdam ini dan apa yang membedakannya dengan dealer-dealer di Indonesia.

Coffee time BMWSatu hal yang sangat menyenangkan adalah adanya lounge yang cukup luas dan terang (karena penggunaan kaca yang banyak) sehingga membuat betah pelanggan berlama-lama didalam dealer, satu hal yang mungkin agak masih menjadi impian di Indonesia.  Satu hal yang sangat menarik adalah ditempatkan salah satu heritage BMW yaitu BMW Isetta yang merupakan salah satu kendaraan paling kompak yang dikeluarkan BMW pada tahun 1955.

Isetta_BMW_AMSNamun tidak melupakan menempatkan kendaraan terbaru mereka dekat dengan lounge yaitu BMW 320i Touring, sehingga bagi yang sedang duduk-duduk menunggu kendaraan sedang diservis dapat melihat kendaraan baru dengan leluasa. Memang disediakan seksi khusus bagi kendaraan-kendaraan yang dijual. Namun ini bisa dikatakan merupakan salah satu trik psikologis dimana biasanya seorang pelanggan yang sedang melakukan servis kendaraan tidak serta merta ingin membeli kendaraan baru. Namun perlu dibangkitkan sedikit rasa ingin tahunya dia dengan semacam teaser seperti ini.

BMW_AMS_3_TouringSetelah menghabiskan Capuccino-nya. Saya disambut oleh Dave da Costa, PIC yang menyerahkan BMW X3 xDrive20d kepada saya. Dan diminta untuk mengikutinya ke “Dek” untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Walau saya sudah terbiasa dengan BMW namun tentu menjadi hal menarik untuk mengetahui bagaimana Standar Prosedur dari pengenalan produk di Belanda. Dan bisa saya katakan standar yang digunakan sangat tinggi dan mengikuti dengan seksama “Six Step Vehicle Walk Around” yaitu memberi penjelasan secara mendetail mengenai produk yang kita gunakan serta apa menjadi keunggulan serta kenapa didesain sedemikan rupa tentu dengan tata cara pengoperasian kendaraan.

Salah satu pertanyaan yang timbul kemudian adalah bagaimana caranya menggunakan BMW Routes yang ada di BMW Connected Drive. Ternyata untuk hal tersebut ada petugas khusus lagi yang dinamakan BMW Product Genius.

BMW GeniusDan BMW Product Genius adalah salah satu konsep terbaru dari BMW dalam melayani pelanggan. BMW Product Genius sendiri bekerja berdampingan dengan Sales Executive atau Business Manager dalam membantu menjelaskan berbagai macam aspek yang ada didalam kendaraan BMW. Karena konsep “satu orang mengetahui semuanya” sudah tidak dapat diterapkan lagi mengingat begitu tingginya fitur yang ada didalam kendaraan saat ini terutama adanya fitur-fitur yang tersembunyi di BMW.

BMW Product Genius adalah orang-orang muda yang sangat paham dengan teknologi dan dapat berkomunikasi dengan sangat baik kepada pelanggan mengenai teknologi atau fitur yang ada pada kendaraan seperti masalah EfficientDynamics, BMW Connected Drive, Head Up Display dan sebagainya. Kita bisa mengenali mereka dari Polo Shirt atau Jaket yang bertuliskan BMW Genius. Tentu dengan adanya BMW Genius sedikit dapat membantu mengurangi “tekanan penjualan” yang biasanya dihadapi seorang pelanggan pada saat berhadapan dengan sales executive.

Setelah mendapatkan penjelasan yang mendetail mengenai BMW Connected Drive tentu saya sudah sangat siap untuk melakukan petualangan pertama saya yaitu perjalanan dari Amsterdam menuju Stuttgart. Tentu akan saya ceritakan dalam artikel yang terpisah 🙂

BMW_X3

Road Tripping: Phuket 3 days (Part 1)

Well sudah lama saya tidak menulis perihal travelling dan sekarang saya coba saja menulis mengenai pengalaman Road Tripping selama saya berada di Phuket, Thailand. Ini adalah pertama kali saya pergi ke Phuket yaitu tanggal 27 Mei s/d 30 Mei 2012. Saya road tripping sendiri karena ada beberapa teman yang tidak jadi ikut namun the show must still go on. Tickets have been paid, hotel have been booked.

Dengan menggunakan pesawat Air Asia berangkat dari Terminal 3, Soekarno-Hatta dibutuhkan setidaknya 3 jam penerbangan ke Phuket, Thailand. Karena ini merupakan pertama kalinya saya kesana jadi sedikit ada rasa deg-degan dan juga pemikiran apa yang mau dilihat namun saya sudah melakukan desktop research lebih awal (halah udah kayak kerjaan aja). Setidaknya sudah dilakukan pencarian hotel melalui Agoda. (Cari yang termurah dengan fasilitas memadai dan dekat dengan tempat hiburan) dan yang pasti melihat bagaimana transport disana.

Kebiasaan saya yang suka menyetir sendiri karena merasa lebih bisa explor suatu daerah. Dan ini sudah saya lakukan sewaktu Road Tripping di Eropa dan akhirnya saya memutuskan untuk melakukan Road Tripping di Phuket dan melihat apa yang kira-kira menarik yang bisa dilihat. Setelah melakukan pencarian yang seksama untuk perusahaan rental saya mendapatkan SIXT sebagai salah satu rental dengan harga yang memadai.

Sixt sendiri merupakan perusahaan rental dari Jerman dan bisa diakses dengan sangat mudah melalui Sixt.com, salah satu kelebihan dari Sixt adalah fleet kendaraan yang mereka yang sangat muda dan bahkan baru. Kalau di Eropa anda bisa menyetir BMW dan Mercedes terbaru dengan harga yang memadai. Di Thailan sendiri karena saya hanya seorang akhirnya memutuskan mengambil Honda Brio 1.2 CVT di Sixt (lihat test drive saya https://ariefinm.wordpress.com/2012/06/08/test-drive-honda-brio-1-2-i-vtec-cvt-sang-raja-kecil/)

Biaya sewa selama 3 hari adalah sebesar Rp 1,2 juta dan saya kira masih memadai mengingat luas Phuket sendiri kira-kira 543km per segi atau lebih kecil daripada kota DKI Jakarta yang mempunyai luas 661 km per segi ataupun Singapura.  Dan saya yakin ada banyak hal yang bisa dilihat di Phuket.

Booking kendaraan sudah OK melalui website (ditambah saya mempunyai loyalty card jadi semakin mudah melakukan booking), hotel sudah dibook, peta jalan sudah di print (setidaknya dari googlemaps ambil peta dari airport ke hotel) just in case GPS saya tidak bekerja dengan baik (dan itu pun terjadi) dan hanya tinggal menunggu jalan ke Phuket.

Setelah terbang selama 3 jam dan dengan sedikit delay juga pada saat berangkat, maka saya tiba kira-kira pukul 19.3o di Phuket. Di counter imigrasi masih diharuskan mengisi embarkation card dan itu pun tidak diberikan didalam pesawat dimana akhirnya harus kasak kusuk nanya dimana ada embarkation card. Setelah terisi dan melewati imigrasi, saya menuju ke counter Sixt di Phuket Airport. Harap diingat bahwa keadaan di Phuket Airport tidak berbeda jauh dengan Soekarno Hatta dengan banyaknya tawaran taksi ataupun sewa kendaraan. Namun saya dengan yakin tetap menuju counter Sixt, setibanya disana tentu saya menanyakan reservasi saya dengan menunjukkan print reservasi. Namun masalah mulai datang dimana penjaga counter ternyata tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya bisa bahasa Thailand. Akhirnya dengan sedikit bahasa Tarzan semua terselesaikan dengan baik dan saya ditunjuk ke Honda Brio berwarna putih yang relatif baru.

Hal yang pertama yang dilakukan adalah melakukan pemeriksaan kendaraan dengan seksama, jangan sampai ada lecet-lecet atau penyok yang diklaim tiba-tiba oleh perusahaan rental dan ditagihkan kepada kartu kredit kita (hal ini suka dilakukan di beberapa rental nakal). Setelah semua diperiksa dengan baik langsung saya coba pasang GPS yang sudah saya miliki lama yaitu Mio C230 dan mencoba memasukkan alamat hotel yaitu The Gallery Hotel di 10 Rat U Third 2oo – Pee Soi 1, Patong, Phuket. Cukup panjang alamatnya dan apesnya si GPS juga bodoh hanya bisa diinput dengan bahasa Thailand. Entah darimana pemikiran Mio kita memasukkan alamat dalam bahasa Thailand kalau kita ada di Thailand.

Beruntung sempat dibuat cetakan dalam googlemaps dan akhirnya melakukan cara lama dengan melihat papan jalan menuju Patong. Patong sendiri berjarak kira-kira 30 km dari bandara dan perlu setidaknya 45 menit untuk jalan kesana. Semakin apesnya karena tiba malam ditambah dengan hujan sehingga makin bingung dalam menentukan arah. GPS saya pakai hanya sebagai patokan jalan saja.

Karena malam tentu tidak banyak yang bisa diceritakan namun yang pasti pengemudi di Thailand cenderung berjalan cepat namun santai. Jadi kalau ada kendaraan didepan mereka yang pelan mereka tidak serta merta menyalip dari kiri atau klakson kita. Perjalanan yang seharusnya 45 menit akhirnya memakan waktu 1 jam 30 menit karena sempat menyasar ke tempat yang lain dan juga salah mengambil jalan.  Perjalanan dari bandara ke Patong pada awalnya membosankan karena hanya jalan-jalan lurus dan juga hujan. Namun setiba kita mau memasuki Patong City ada beberapa jalan menanjak ekstrem dengan tikungan yang juga ekstrem yang merupakan tantangan bagi Petrol Head sejati. Very cool road entering the City. Ditambah ada papan Patong City yang berbentuk menyerupai Gotham City.

Memasuki Patong City seperti memasuki daerah Kuta di Bali, sangat ramai dengan turis dan segala macam jualan dsb. Yang paling menonjol sangat banyak ditawarkan massage Thai. Dan itu pun buka sampai malam.

Tantangan berikutnya adalah mencari hotel saya, dan itu pun ditambah dengan tulisan Thai yang gak jelas semakin mempersulit mencari gang tersebut. Setelah melakukan orientasi beberapa kali maka akhirnya ketemulah dengan The Gallery Hotel. Dan bersyukur ada sedikit tempat parkir dimana saya bisa meletakkan kendaraan. Hotel tersebut lumayan strategis dan bersih karena berada di pusat keramaian di Patong (akan diceritakan di part yang lain :P)

Cek in bisa dikatakan lancar walau sedikit aneh karena dimintakan deposit kunci oleh sang resepsionis namun lumayan bisa dianggap sebagai tabungan akhir di Phuket :).

Masuk hotel tentu yang dilakukan adalah mandi terlebih dahulu dan istirahat setelah penerbangan melelahkan selama 3 jam ditambah berjalan melalui darat dengan menyasar dan keadaan hujan yang semakin membuat males keluar. So hopefully besok akan menjadi hari yang lebih indah.

Cerita berikutnya di Part 2