Test Drive: Mencoba Porsche Panamera 4S di Negeri Porsche

UntitledSaya coba melanjutkan cerita perjalanan saya walau sedikit lebih lambat karena sibuknya pekerjaan. Kali ini saya coba review Porsche Panamera 4S yang sempat dipinjamkan oleh Porsche AG kepada saya setiba di Stuttgart, Jerman. Dan ini adalah kesempatan langka karena bisa merasakan dengan betul bagaimana rasanya membawa Porsche di negeri kelahirannya sendiri. Courtesy adalah dari Porsche Center Jakarta dan Porsche Asia Pacific yang memberi saya kesempatan untuk mencoba salah satu produk dari Porsche.

Porsche Werke 1

Pengambilan kendaraan ini juga sangat menarik yaitu di Porsche Werke 1 yang merupakan pabrik pertama dari Porsche, sayangnya saya tidak diperkenankan mengambil gambar didalam Werke 1 karena masih merupakan pabrik aktif dan ada beberapa kendaraan yang masih ditutup dengan kamuflase. Namun pihak Porsche sangat rileks dalam memberikan kendaraan cukup menunjukkan paspor dan menandatangani disclaimer saya diberikan kunci ke Porsche Panamera 4S dengan nomer S-GO-3111. Cukup mudah mencarinya dari sekian banyak Porsche yang diparkir di Werke 1 karena untuk setiap media car sudah ada spot sendiri dan ini mempunyai Spot GO-1. Yang membuat saya sedikit geli dan sayangnya saya tidak bisa mengabadikannya adalah menempatkan BMW X3 xDrive20d dengan pelat nomer Belanda persis didepan pintu masuk dari Werke 1. Tentu bisa dikatakan sedikit “meledek” karena ada kendaraan kebanggaan Munchen diantara kebanggaan Stuttgart.

steeringMasuk kedalam kendaraan maka kita disambut dengan tampilan dasbor khas Porsche dengan 3 dial dimana pada bagian tengah terpampang jelas Tachometer yang besar dan ini juga menunjukkan DNA yang kuat dari model Porsche legendaris yaitu Porsche 911. Kebetulan juga tahun ini adalah 50 tahun dari Porsche 911 sehingga menjadi sangat istimewa bisa mencoba salah satu kendaraan di tempat kelahirannya. Pada awal diinformasikan mendapatkan Panamera4S saya agak sedikit kecewa karena berpikir ini adalah kendaraan yang terlalu besar dan mewah dan tidak mempunyai rasa sporty Porsche 911. Namun pada saat kita mulai menyalakan kendaraan ini maka terasa bahwa dibalik kemewahan dan kebesaran kendaraan ini, tersimpan kendaraan sport yang memang sesuai dengan 911. Mesin 4.8 V8 menyalak memberi suatu suara yang mengintimidasi apalagi pada saat kita coba menelusuri console tengah dan menemukan ada tombol dengan gambar dua pipa. Pada saat kita menekan tombol itu maka suara dari V8 tersebut akan semakin menggelegar dan membuat kita semakin bernafsu ingin segera melaju dengan Porsche ini.

center_consoleInterior yang sangat mewah dengan balutan kulit disekeliling semakin membuat kendaraan ini terasa istimewa walau konsol tengah yang besar pada awalnya memang sedikit mengintimidasi karena terlihat seperti mengungkung kita dalam kendaraan. Ditambah dengan lautan tombol yang sangat banyak membuat kita berpikir sejenak dalam menerjemahkan masing-masing tombol gunanya untuk apa. OK, cukup melihat tombol, mari kita lihat kemana tujuan saya karena menurut info dari Porsche saya sudah diberikan route untuk menguji Panamera 4S. Saya coba masuk ke sistem navigasi, yang sayangnya tidak bisa dikatakan terlalu user friendly namun sudah ditemukan jalanan yang disave. Setelah menekan enter saya melaju dengan sang Panamera ini.

Memasuki Autobahn saya sedikit curiga melihat waktu tempuh untuk mencapai tujuan kok sepertinya sangat lama. Setelah melihat End destination ternyata jalur ditujukan ke Praha, Republik Ceko…Hmmmm satu hal yang sepertinya kurang saya ingin lakukan apalagi sudah menyetir selama 7 jam dari Amsterdam ke Stuttgart. Saya tidak mau mencoba perjalanan seperti itu lagi. So saya kemudian melakukan cara tradisional yaitu keluar dari jalur dan mencoba mencari jalan-jalan pedesaan yang menyenangkan dan itu bisa saya dapatkan di sekitar Stuttgart. Dan seperti terlihat dalam foto kebetulan cuaca sangat baik.

Engine_4.2Seperti diinformasikan maka Panamera 4S ini menggunakan mesin 4.8liter V8 yang masih merupakan Panamera versi sebelum facelift yang baru keluar ini. Namun mesin ini cukup memberi kita ketegangan yang berarti karena dengan tenaga sebesar 406hp pada 6500rpm dan torsi maksimum 500NM pada 3500-5000rpm maka dia dapat melaju 0-100km/jam hanya dalam waktu 4,8 detik. Dan itu sangat cepat mengingat besar dan bobot dari Panamera. Ditambah kecepatan puncak dapat mencapai 282km/jam. Satu kecepatan yang belum sempat saya rasakan karena ramainya Autobahn pada saat saya uji, namun saya berhasil mendapatkan kecepatan setidaknya 265km/jam dari arah Stuttgart menuju Heillbronn.

Penggunaan transmisi PDK (Porsche Doppelkupplung) atau Twin Clutch dengan 7 percepatan yang dapat memberikan penggantian gigi yang sangat cepat. Dan bisa saya katakan memang merupakan salah satu yang tercepat dalam penggantian gigi. Terutama pada saat kita berada di jalan pedesaan dan pengunungan yang bisa membuat kita membanting kendaraan ini kekiri dan kekanan. Masih termasuk sangat lincah untuk kendaraan dengan ukuran body yang cukup besar yaitu panjang 4970mm, lebar 1931mm, tinggi 1418mm dan panjang sumbu roda 2900mm. Kalau bisa dibilang ini adalah kendaraan yang sangat besar. Namun karena settingan suspensi dan ditambah Panamera 4S ini dilengkapi dengan Chrono Sport Package maka terasa semakin lincah dikendarai.

chronoDengan Chrono Sport Package maka bantingan akan terasa lebih firm dan juga lebih rendah 25mm yang diatur oleh Porsche Active Suspension Management (PASM) yang mengatur settingan sesuai dengan kondisi jalanan. Yang menarik adalah bahwa dengan PASM maka pada saat kita berkendara normal, Panamera 4S akan berlaku seperti kendaraan mewah lainnya seperti BMW Seri 7 atau Mercedes-Benz S-class dengan kenyamanan yang luar biasa. Namun dengan bodi yang mempunyai DNA seperti Porsche 911 maka selain menjadi pusat perhatian juga memberi rasa sporty yang tinggi. Dan ini terasa pada saat kita mengganti ke posisi Sport atau Sport-Plus. Yang menarik adalah bahwa posisi Sport atau Sport Plus dapat kita lihat pada setir dan bukan didalam indikator atau panel consol.

steering_sportSemakin saya menjalankan kendaraan ini menikmati jalan pedesaan semakin terasa bahwa walau Porsche telah memposisikan Panamera sebagai versi mewah dari Porsche namun dia tidak meninggalkan heritage dari Porsche 911. Tetap dilengkapi dengan kedinamisan yang tinggi serta rasa sporty yang memadai namun dengan tingkat kemewahan yang sesuai dengan segmen yang dituju. Kita bisa melihatnya sebagai kendaraan yang mubazir namun mungkin bagi yang berkeluarga dan sudah sangat mapan (harus sangat mapan) dan masih menginginkan kendaraan Porsche maka Panamera masih bisa dapat dijadikan opsi sebagai kendaraan.

sexy_back

front_interior seats

BMW X3 xDrive 20d…sang penjelajah Amsterdam-Munchen-Amsterdam

BMW_X3Sekarang saya coba menceritakan sedikit mengenai senjata penjelajahan saya yaitu BMW X3 xDrive 20d yang disediakan oleh BMW Nederland menemani saya menuju markas utama BMW di Munchen. Kebetulan kalau masih ingat artikel test review saya yang sebelumnya yaitu pengetesan BMW X3 xDrive 20d dengan Business Package di Indonesia. Maka untuk saat ini saya diberikan yang versi High Executive. Perbedaan utama adalah dari segi fitur seperti penggunaan Bi-Xenon Lights dengan Rain dan Light Sensors, BMW Navigation Professional dengan BMW Connected Drive, Oyster Nevada Leather dengan Sports Seats, Velg 19″ dengan Tire Pressure Monitor (kalau tidak salah dilengkapi dengan Run Flat Tyre), warna Tiefseeblau metallic yang tidak dijual di Indonesia namun ternyata indah dipandang. Saya kurang tahu apakah cuaca Eropa mempengaruhi warna biru atau tidak namun tentu saya pengen juga melihat warna ini di Indonesia.

BMW_X3_backSeperti saya katakan tampilan warna ini membuat X3 terlihat lebih mewah terutama dengan velg 19″ yang menambah sporty. Pengunaan mesin 2 liter diesel empat silinder TwinPowerTurbo yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 185hp pada 4000rpm dan torsi maksimal sebesar 380Nm pada 1750-2750 rpm membuatnya menjadi lincah dalam berkendara. Mesin ini sama persis dengan yang dijual di Indonesia namun masalah kualitas BBM lebih baik tentu membuat performa dari X3 jauh lebih sempurna. Akselerasi untuk kendaraan diesel cukup cepat yaitu 8,5 detik untuk mencapai 100km/jam dari diam serta kecepatan puncak setinggi 210 km/jam. Hal ini dapat dicapai dengan mudah di Autobahn dan pasti akan kesulitan untuk dicoba di keramaian Jagorawi atau tol Cikampek.

Sangat beruntung masih diberikan versi transmisi otomatis delapan percepatan untuk X3 ini, karena biasanya di Eropa transmisi ini adalah opsional dan di Indonesia merupakan hal yang standar menggunakan transmisi otomatis pada kendaraan premium. Tapi seharusnya bisa menjadi hal yang menarik mencoba X3 versi transmisi manual yang notabene tidak dijual di Indonesia.

Interior_X3Dari tampilan dasbor penggunaan setir sport pada X3 ini memberikan rasa genggaman yang sangat baik dan kita merasa bahwa kita sangat bisa mengendalikan Sports Activity Vehicle ini. Penggunaan layar 8,8 inci serta adanya fasilitas Internet connection pada BMW ini semakin memudahkan dalam mengakses berbagai macam data. Hal ini terutama terasa pada saat kita mencoba melihat beberapa Points Of Interest yang tidak tersedia dalam navigasi namun dapat dicari dengan Google Search.

Selain fasilitas Google Search ada juga fasilitas menarik dari konektivitas ini yaitu dapat melihat ramalan cuaca di wilayah sekitar kita ataupun tujuan akhir kita. Mungkin hal ini kita akan anggap lalu di Indonesia namun untuk Eropa mengetahui ramalan cuaca tentu dapat membuat kita mempersiapkan diri dengan lebih baik daripada menebak tidak hujan atau dingin dan ternyata malah hujan dan dingin.

Fasilitas Traffic Information yang terintegrasi dengan BMW Navigation semakin mempermudah kita mengetahui keadaan perjalanan kita dan bahkan navigasi akan melakukan kalkulasi penyesuaian waktu perjalanan kita. Benar-benar sangat menyenangkan.

Front seatsPerjalananan jauh tentu harus didukung dengan kenyamanan kendaraan yang mumpuni dan itu terasa dari penggunaan Sports Seats pada BMW X3 ini yang membuat kita duduk dengan nyaman pada perjalanan jauh. Terutama penggunaan Nevada Leather dengan warna Oyster semakin menambah kemewahan dari versi X3 ini. Sedikit disayangkan penyetelan masih harus dilakukan secara manual.  Posisi belakang juga cukup leluasa untuk perjalanan jauh dan penambahan gorden pada jendela tengah semakin menambah ekslusivitas dari BMW X3 ini sebagai kendaraan touring jarak jauh.

Pencatatan penggunaan BBM selama perjalanan sepanjang hampir 2000km mencapai 1:14 liter bahan bakar Diesel. Dan kalau dipikir termasuk irit karena ada beberap kali saya memacunya sampai kecepatan puncak yaitu 210 km/jam yang tentu menuntut penggunaan bahan bakar yang lebih banyak.

back_seatTentu semua opsi ini tidak murah dan bedanya dengan di Indonesia, kita bisa memesan kendaraan sesuai dengan keinginan kita asal kita mau bersabar menunggunya. Harga dasar dari BMW X3 xDrive20d adalah sebesar Euro 57,430 namun versi yang saya uji sudah dilengkapi dengan paket High Executive  serta berbagai macam opsi dijual dengan harga kira Euro 72,000 atau Rp 942,263,000 yang berarti jauh lebih mahal dibanding yang dijual di Indonesia yaitu Rp 818.000.000 off the road. Jadi kendaraan BMW yang dijual di Indonesia tidaklah lebih mahal dari yang dijual di Eropa dengan spesifikasi yang mungkin menyamai bahkan bisa melebihi.   Namun tentu dengan fleksibilitas opsi yang diberikan sebuah perusahaan mobil kepada pelanggan, maka kita sendiri dapat menentukan apa saja yang kita inginkan didalam kendaraan kita sesuai budget yang ada.

X3_wheels

Tunggu cerita-cerita menarik berikutnya dari saya.

Mengawali perjalanan Amsterdam-Stuttgart, menjemput X3 di BMW Amsterdam.

AmstedamAkhirnya saya berkesempatan untuk menulis perjalanan saya selama di Eropa selama 2,5 minggu. Baik suka dan dukanya. Walaupun banyak merasa saya sangat beruntung bisa jalan-jalan dan mencoba kendaraan terbaru di Jerman dan Belanda namun masih ada beberapa suka dan dukanya. Setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Jakarta menuju Amsterdam dengan pesawat KLM. Maka saya tiba pada pagi hari jam 06.00 di Amsterdam. Cuaca juga masih sangat dingin yaitu 8 derajat celcius dan berkabut. Seperti yang terlihat di gambar yang diatas. Agak suram, dingin dsb. Dan bahkan dikatakan ini adalah bulan Mei terdingin di Belanda selama 120 tahun.

Minggu pertama ini adalah untuk memenuhi undangan konferensi serta rapat untuk pekerjaan saya. Setelah pekerjaan selesai baru hal-hal yang menyenangkan yang akan dilakukan. Saya tentu sudah tidak sabar menunggu hari Jumat dimana saya bisa menjemput kendaraan yang akan membawa saya dalam perjalanan panjang dari Amsterdam menuju Munchen. Singkat cerita, karena masalah konferensi akan membosankan, tibalah kita pada hari Jumat 24 Mei 2013 dimana saya diminta oleh BMW AG menjemput kendaraan di dealer BMW Amsterdam yang terletak di Pieter Braaijweg 2, Amsterdam Amstel Business Park.

BMW Dealer Amsterdam_2Kebetulan Jum’at itu cuaca sedikit cerah dan saya bisa melihat dengan jelas seperti apa standar dealer BMW yang ada di Eropa. Kalau dilihat sangat berbeda dengan di Indonesia dimana BMW Amsterdam menggunakan konsep full glass seperti sebuah gallery atau hanggar dimana kita bisa melihat hampir semua tipe BMW yang dijual dan ini mungkin pertama kali saya lihat sebuah dealer dengan begitu banyak pilihan BMW.

BMW Dealer AmsterdamBMW Amsterdam juga bergabung dengan dealer MINI Amsterdam sehingga terlihat ini adalah dealer yang cukup besar. Selain BMW dan MINI baru. Dealer ini merupakan salah satu dealer bagi BMW M serta juga melayani BMW Premium Selection yang merupakan kendaraan bekas BMW yang diperiksa secara seksama dengan 72 kriteria.  Kalau kita lihat didalam gambar maka bagian yang terparkir kendaraan dinamakan “Het Dek” atau bisa disebut Anjungan dalam bahasa Indonesia. Dimana semua kendaraan BMW dalam hal serah terima servis ataupun penyerahan kendaraan baru dilakukan diatas “Dek” tersebut. Tujuannya agar pelanggan serta sales consultant atau service advisor dapat memberikan keterangan yang jelas perihal kendaraannya. Tentu dek ini juga sangat leluasa untuk kita bergerak.

Memasuki dealer BMW Amsterdam saya disambut oleh resepsionis yang ramah yang langsung mencoba membantu mencarikan PIC dimana saya harus menerima kendaraan. Tentu diminta menunggu dengan hidangan Capuccino yang sangat nikmat. Sambil menunggu saya coba mengamati seperti apa dealer BMW Amsterdam ini dan apa yang membedakannya dengan dealer-dealer di Indonesia.

Coffee time BMWSatu hal yang sangat menyenangkan adalah adanya lounge yang cukup luas dan terang (karena penggunaan kaca yang banyak) sehingga membuat betah pelanggan berlama-lama didalam dealer, satu hal yang mungkin agak masih menjadi impian di Indonesia.  Satu hal yang sangat menarik adalah ditempatkan salah satu heritage BMW yaitu BMW Isetta yang merupakan salah satu kendaraan paling kompak yang dikeluarkan BMW pada tahun 1955.

Isetta_BMW_AMSNamun tidak melupakan menempatkan kendaraan terbaru mereka dekat dengan lounge yaitu BMW 320i Touring, sehingga bagi yang sedang duduk-duduk menunggu kendaraan sedang diservis dapat melihat kendaraan baru dengan leluasa. Memang disediakan seksi khusus bagi kendaraan-kendaraan yang dijual. Namun ini bisa dikatakan merupakan salah satu trik psikologis dimana biasanya seorang pelanggan yang sedang melakukan servis kendaraan tidak serta merta ingin membeli kendaraan baru. Namun perlu dibangkitkan sedikit rasa ingin tahunya dia dengan semacam teaser seperti ini.

BMW_AMS_3_TouringSetelah menghabiskan Capuccino-nya. Saya disambut oleh Dave da Costa, PIC yang menyerahkan BMW X3 xDrive20d kepada saya. Dan diminta untuk mengikutinya ke “Dek” untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Walau saya sudah terbiasa dengan BMW namun tentu menjadi hal menarik untuk mengetahui bagaimana Standar Prosedur dari pengenalan produk di Belanda. Dan bisa saya katakan standar yang digunakan sangat tinggi dan mengikuti dengan seksama “Six Step Vehicle Walk Around” yaitu memberi penjelasan secara mendetail mengenai produk yang kita gunakan serta apa menjadi keunggulan serta kenapa didesain sedemikan rupa tentu dengan tata cara pengoperasian kendaraan.

Salah satu pertanyaan yang timbul kemudian adalah bagaimana caranya menggunakan BMW Routes yang ada di BMW Connected Drive. Ternyata untuk hal tersebut ada petugas khusus lagi yang dinamakan BMW Product Genius.

BMW GeniusDan BMW Product Genius adalah salah satu konsep terbaru dari BMW dalam melayani pelanggan. BMW Product Genius sendiri bekerja berdampingan dengan Sales Executive atau Business Manager dalam membantu menjelaskan berbagai macam aspek yang ada didalam kendaraan BMW. Karena konsep “satu orang mengetahui semuanya” sudah tidak dapat diterapkan lagi mengingat begitu tingginya fitur yang ada didalam kendaraan saat ini terutama adanya fitur-fitur yang tersembunyi di BMW.

BMW Product Genius adalah orang-orang muda yang sangat paham dengan teknologi dan dapat berkomunikasi dengan sangat baik kepada pelanggan mengenai teknologi atau fitur yang ada pada kendaraan seperti masalah EfficientDynamics, BMW Connected Drive, Head Up Display dan sebagainya. Kita bisa mengenali mereka dari Polo Shirt atau Jaket yang bertuliskan BMW Genius. Tentu dengan adanya BMW Genius sedikit dapat membantu mengurangi “tekanan penjualan” yang biasanya dihadapi seorang pelanggan pada saat berhadapan dengan sales executive.

Setelah mendapatkan penjelasan yang mendetail mengenai BMW Connected Drive tentu saya sudah sangat siap untuk melakukan petualangan pertama saya yaitu perjalanan dari Amsterdam menuju Stuttgart. Tentu akan saya ceritakan dalam artikel yang terpisah :)

BMW_X3

Test Drive: BMW M6 Coupe….Power and Comfort

BMW M6 frontSalah satu kesempatan langka yang didapat sebagai jurnalis otomotif adalah kesempatan mencoba kendaraan sport di lingkungan yang terkendali seperti sirkuit dan kesempatan langka tersebut saya dapatkan dengan kesempatan menguji BMW M6 Coupe di M Performance Day III yang diadakan di Sentul pada hari Sabtu 6 April lalu.

BMW M6 Coupe dengan kode F13 adalah versi terbaru dari keluarga M6 yang dilaunch pada IIMS 2012 lalu dan sampai saat ini versi ini adalah satu-satunya di Indonesia yang dibawa jalan. Versi F12 ini terlihat jauh lebih elegan dan cantik dibanding versi sebelumnya E63 yang berasal dari era Chris Bangle dan terlihat mirip dengan BMW seri 7 E65/66. Tampilan depan seperti elang dengan bagian belakang terlihat seperti peti mati China. Wajar jika penjualan dapat dikatakan kurang menggembirakan dibanding BMW M5 E60 yang beredar pada waktu yang bersamaan.

E63 M6Tampilan dari BMW M6 F12 ini terlihat jauh lebih anggun dan cantik dan mengikuti jejak pendahulunya yaitu BMW M635Csi E24 yang bisa dikatakan merupakan generasi pertama dari M6 yang didasarkan atas BMW Seri 6 Coupe dan digabungkan dengan mesin BMW M1. M1_635_M6Seperti pendahulunya maka BMW M6 ini juga didasarkan atas BMW Seri 6 Coupe namun dengan mesin yang berbeda yaitu mesin 4.4 liter V8 denga M Twin Power Turbo yang dapat menghasilkan tenaga 560 hp pada 6000rpm sampai 7000rpm dan dapat berputar hingga 7200rpm dan torsi 680Nm pada 1500rpm hingga 5750 rpm. Tentu tenaga seperti ini sangat luar biasa dan itu terasa pada saat saya keluar dari pit area menuju sirkuit. Transmisi Double Clutch Transmission (DCT) dengan 7 percepatan yang dikombinasikan pada mesin luar biasa ini terasa sangat reaktif dan cepat dalam mengganti gigi. Hanya dalam waktu 4,2 detik dapat mencapai 100 km/jam dan menuju tikungan pertama dengan kecepatan yang cukup tinggi. Pengendalian dari sasis yang sudah ditune khusus untuk Nurburgring membuatnya sangat stabil dalam menjalani tkungan yang cukup tajam ditambah dengan M Dynamic Mode yang membuatnya menjadi sangat fun to drive dan mampu melakukan drifting di beberapa bagian dari sirkuit Sentul.

BMW M6_panRem M Carbon Ceramic sangat handal pada saat pengereman keras setelah melalui Sentul Straight dengan kecepatan 200 km/jam (sayangnya kurang panjang straightnya) dan bisa menghentikan kendaraan tanpa ada ketakutan menyelonong ke dalam “kitty litter”.

Selain mesin dan pengendalian yang luar biasa ada satu hal yang menarik yaitu bahwa selain menjadi kendaraan track yang sangat potensial juga dapat menjadi kendaraan harian atau Gran Turismo yang nyaman dikendarai dan ini diperkuat dengan tampilan interior yang sangat mewah dengan M Sports Seat yang ringan dan sangat suportif dan tetap nyaman untuk dikendarai jarak jauh serta penggunaan bahan kulit yang berkualitas tinggi dengan sistem Audio Bang and Olufsen yang luar biasa.

M6 interiorYang pasti setelah merasakan tenaga dari M kita bisa mengatakan bahwa M benar adalah huruf terkuat di dalam abjad dan kita akan ketagihan merasakan tenaga yang luar biasa namun dengan kemampuan dapat mengendarai secara harian. I want one and hopefully with the same color :)

BMW M6 back

Test Drive: BMW 730Ld…sensasi diesel di sedan premium

1Sedan premium dengan bahan bakar Diesel? Nggak mungkin kalau kita masih berada di tahun 2000 dan sejarah menunjukkan bahwa kendaraan diesel pada segmen premium juga belum mendapatkan respons yang begitu baik seperti Mercedes Benz C270 CDI yang mungkin hanya beredar segelintir di jalanan Jakarta. Namun BMW Indonesia sejak 2012 mulai gencar memasarkan kendaraan menggunakan mesin diesel mulai dari seri X1, X3, X5 (semuanya SUV) dan sedan 520d. Kini BMW bahkan berani memasukkan versi diesel di segmen yang sedan premium dengan the new 7 series dengan tipe 730Ld.

Seri 7 terbaru ini selain mendapatkan mesin diesel juga mempunyai tampilan yang berbeda dibanding versi terdahulu. Terutama pada segi lampu depan yang berbentuk elips berbeda dengan BMW pada umumnya yang berbentuk bulat. Namun desain ini bukan hanya sekedar estetika tapi BMW seri 7 terbaru ini dilengkapi dengan lampu Adaptive LED Headlights yang merupakan teknologi terbaru dibidang pencahayaan dan ditambah dengan adanya Dazzle Free High Beam Assistance yang akan memposisikan lampu utama ke high beam secara otomatis pada saat kita melewati jalan yang gelap dan sepi. Bila ada kendaraan lain maka dia akan otomatis memposisikan lampu agar tidak silau, walau tetap dalam posisi High Beam.

Tampilan baru dari 7 series ini semakin membuat dia kelihatan sporty namun elegan dan bahkan ada perasaan terintimidasi pada saat kita melihat kendaraan ini mendekat di spion kita apalagi pada saat kita melihat “Corona” rings menyala. Dan tampilan seri 7 yang sekarang bisa saya katakan jauh lebih berhasil dibanding pada saat Bangle menampilkan seri 7 E66. Saya masih ingat perkataan salah satu customer saya kenapa dia tidak mau beli E66 karena bagian belakangnya mirip peti mati asal Tionghoa. (peti mati vampir yang biasa kita lihat di film).

Seri 7 yang sekarang terlihat jauh lebih elegan dengan garis yang tegas namun ukuran yang juga jauh membesar. Menurut data, di kelas sedan premium, seri 7 kini merupakan sedan terbesar dibanding rivalnya, bahkan S-class.

Dengan sumbu roda 3210 mm ini adalah sumbu roda terpanjang yang pernah saya coba namun yang menarik adalah bahwa walau ini adalah kendaraan yang besar namun kelincahan dari seri 7 masih setara dengan seri 5. Dan memang sumbu roda sepanjang ini tentu membuat seri 7 sangat nyaman pada saat kita kendarai terutama di kursi belakang yang mempunyai ruang kaki yang sangat luas.

Seperti dikatakan sebelumnya, wheelbase yang panjang memang membuat nyaman pada saat kecepatan tinggi namun biasanya akan kesulitan pada saat menikung, namun hal ini tidak terdapat pada 730Ld karena tersedianya Driving Dynamics dengan Adaptive Suspension dimana adanya pilihan COMFORT+, COMFORT, SPORT dan SPORT+. Saya lebih senang posisi pada COMFORT atau SPORT karena kalau kita meletakkan modenya di COMFORT+ maka suspensi akan menjadi sangat lembut sehingga menjadi terlalu nyaman. Mungkin bila majikan sedang duduk dibelakang tentu akan merasa sangat nyaman dengan COMFORT+ namun bagi yang mengemudikan dia akan kesulitan mengendalikan karena begitu lembutnya settingan suspensi.

IMG_2183

Namun selain kenyamanan suspensi dan pengendalian tentu yang ingin diketahui bagaimana rasanya mengendarai sebuah sedan premium yang ditenagai oleh mesin Diesel. Yang pasti rasanya luar biasa karena mesin Diesel terkenal dengan torsi yang besar pada putaran yang rendah sehingga sensasi berkendara berbeda dibanding dengan mesin bensin. Sensasi torsi sebesar 560Nm yang sudah keluar di 1.500rpm adalah hal yang mungkin agak susah digambarkan dengan tulisan. Anda harus merasakannya untuk meyakini bahwa mesin Diesel bukanlah seburuk yang kita kenal selama ini yaitu lamban, kotor dan bau.

Torsi sebesar 560Nm memudahkan untuk menggerakkan kendaraan seberat 2ton ini untuk berakselerasi dari 0-100 km/jam hanya dalam waktu 6,2 detik dan kecepatan puncak mencapai 250km/jam. Ini semua berkat mesin Diesel enam silinder segaris dengan Twin Power Turbo yang mempunyai kapasitas sebesar 3000cc. Ini adalah mesin terbaru dari BMW dalam hal diesel dan bahkan ada mesin tipe N57S dengan Triple Power Turbo technology yang digunakan pada BMW M Performance.

IMG_2193

Bila kita mengingat seri 7 yang awal yaitu E66 dimana pertama kali ditampilkan sistem i-Drive. Maka siapapun yang pernah mencobanya akan frustrasi besar-besaran. Karena saking rumitnya pengendalian i-Drive. Bahkan tombol pengganti gigi diletakkan pada kolom setir sehingga sedikit membingungkan pada awalnya. Pada seri 7 sekarang, maka i-Drive sudah jauh lebih sederhana dan ini juga terlihat di semakin distandarkan i-Drive di semua lini BMW. Serta kembalinya tongkat persneling ke konsol tengah.  Yang menarik dari i-Drive pada BMW adalah selain jauh lebih sederhana kini juga ditampilkan full internet browser pada BMW Connected Drive agar siapapun yang berada didalam seri 7 dapat leluasa membuka internet untuk melihat agenda pertemuan kedepan atau membuka email. Bahkan synchronisasi dengan Blackberry dapat menampilkan pesan yang masuk sehingga memudahkan kita yang mungkin menunggu keputusan penting dari klien kita.

IMG_2194Satu hal yang sangat menarik justru pada BMW Seri 7 ini adalah adanya fasilitas menunjuk arah kiblat. Mungkin ini adalah yang pertama di Indonesia dimana ada kendaraan menunjukkan arah kiblat. Mungkin pihak PT BMW Indonesia melihat potensi pasar yang besar di Indonesia yang notabene mempunyai penduduk muslim terbesar didunia. Tentu ini adalah hal menarik karena produsen asal Jerman justru memperhatikan adanya arah kiblat bagi pemiliknya. Mungkin kedepan dia akan mengingatkan kita juga waktu shalat dan disesuaikan dengan lokasi dimana kita berada. Dan kiblat ini tidak hanya tampil di layar di bagian depan, namun juga dilayar di bagian belakang. Berbicara tentang layar di ruang belakang. Baik kedua layar / monitor tsb dapat diatur dengan fungsi masing-masing. Jadi bisa saja yang satu menonton DVD sedang yang satu tetap internet. Input GPS pun bisa dilakukan dari belakang namun tampilan rute hanya akan tampil di layar depan.

IMG_6206 IMG_6201

Selama berkendara dengan 730Ld saya juga coba ECOPRO Mode yang merupakan bagian dari Efficient Dynamics di BMW dan ada satu feature yang berbeda dibanding mode ECOPRO yang ada di seri BMW yang lain yaitu ada feature “Sailing” dimana pada saat kita melaju konstan diatas kecepatan 60 km/jam dan kita lepas gas maka putaran mesin akan idle namun kendaraan tetap melaju dengan kecepatan yang sama tanpa adanya engine brake. Hal ini sebagai upaya memberikan efisiensi terbaik dari seri 7 ini. Fitur ini memberikan sensasi seolah mengendarai Hybrid dan justru semakin memacu kita berusaha mencapai efisiensi tertinggi dengan fitur ECOPRO with Saili

IMG_6200Secara umum BMW Indonesia telah mengenalkan hal yang berbeda dengan memasarkan versi diesel pada beberapa seri mereka dan kita bisa lihat bahwa semakin banyak APM serta konsumen Indonesia mulai melihat Diesel sebagai alternatif kendaraan yang hemat BBM namun tetap bertenaga dan tidak lagi ada kesan ini adalah kendaraan yang kotor dan bau. Harga yang ditawarkan untuk 730Ld adalah Rp 1.748.000.000 off the road dan ini merupakan salah satu diesel terkuat dan pertama di segmen Big Luxury sedan.
3 IMG_2178 2IMG_2237 IMG_2197 IMG_6177IMG_6199 IMG_6182 IMG_6181 IMG_6178 IMG_6211 IMG_6205 IMG_6204

Test Drive: Infiniti FX37S Kupe atau SUV?

FX37S_FrontInfiniti baru memasuki pasar di Indonesia hanya beberapa tahun. Namun salah satu tugas yang paling berat yang harus diembannya adalah menghadapi pesaing merek premium yang sudah hadir lebih awal di Indonesia seperti Mercedes-Benz, BMW, Volvo dan Lexus.  Dari segi produk cukup beragam dan disini salah satu SUV premium yang saya coba adalah Infiniti FX37S yang baru mengalami facelift dan mendapatkan cangkokan mesin baru.

Mesin 3700 cc V6 DOHC bisa ditemui di Nissan 370Z coupe dan kalau kita kendarai FX37S karakter raungan khas kendaraan sport juga sangat terasa pada Infiniti ini. Raungan khas V6 yang keluar dari dual exhaust oval namun tidak didukung dengan rasa tenaga yang membuat ‘WOW’ malah ada kecenderungan terasa pelan dibandingkan suara yang dihasilkan. Mungkin wajar mengingat kendaraan ini adalah SUV dengan bobot 2 ton dan ditambah menggunakan velg Enkei 21″ sehingga menambah bobot kendaraan.

FX37S_backFX37S ini terlihat sangat besar dan itu juga terasa pada saat kita mengendarainya. Hidung yang panjang dengan lengkungan yang mendominasi kap mesin semakin menambah aura “besar” dari kendaraan ini. Ada satu hal yang sangat menguntungkan dari kebesaran ini yaitu sebagian besar kendaraan menjadi takut bila berpapasan dengan FX37S. Terutama tampilan fascia depan yang seperti seekor hiu yang siap menerkam mangsanya dengan mulut yang menganga lebar. Dalam hal mengintimidasi kendaraan lain saya patut mengacungi jempol kepada desainer Infiniti.  Lampu bi-xenon juga semakin menerangkan jalan dan bentuk lampu yang menyipit menambah aura seram dari FX37S ini.

Panjang keseluruhan dari kendaraan ini adalah 4865mm dengan lebar 1925mm tinggi 1688 mm serta wheelbase sepanjang 2885mm. Tentu besar harapan wheelbase yang panjang ini memberikan kenyamanan berkendara yang tinggi serta ruang interior yang lega. Anehnya hal ini kurang terlihat. Dari sisi interior ada kecenderungan menyempit dan kurang lega bagi penumpang belakang serta bantingan dijalan sangat keras bila terkena seperator pada tol atau sedikit bumpy, namun di jalan yang mulus masih patut diacungi jempol settingan suspensinya untuk tingkat grip dan stabilitas yang cukup baik bagi kendaraan SUV.

189Dari segi interior tampilan dasbor tidak terlampau istimewa dan cenderung terlihat seperti kendaraan Jepang pada umumnya. Hal yang sedikit disayangkan mengingat harganya yang mencapai Rp 1,2 milliar off the road. Kendaraan di harga yang sama justru memberikan tampilan yang jauh lebih mewah. Namun penggunaan material memang masih patut diacungi jempol seperti penggunaan Graphite Leather pada keseluruhan jok dan doortrim serta Black Lacquer sebagai material insert pada dasbor dan pintu.

Desain jok depan sangat ergonomis dan nyaman dan saya tidak bisa mengatakan hal yang jelek mengenai joknya. Desainnya juga unik dengan motif wajik namun sedikit disayangkan kenapa harus ada tulisan Infiniti pada sandaran sehingga memberi kesan sedikit “murahan”.

192Pengaturan jok dan setir dapat dilakukan secara elektronis sehingga kita tidak perlu bersusah payah mendorong jok. Audio system pada versi FX37S juga cenderung “standar”  dan sayangnya Bose hanya ditawarkan pada versi paling atas yaitu FX50S dengan menggunakan 11 speaker. Dan salah satu hal yang saya sangat salut dari Infiniti adalah betapa heningnya kendaraan ini, tidak ada satupun kendaraan atau manusia terdengar dari luar bila kita berada didalam dan hiruk pikuk Jakarta cukup kita lewatin dengan senang.

Sepertinya ada teknologi Sound Cancellation di dalam FX37S ini karena pada saat kita parkir di Benhil, tukang parkir tidak terdengar sama sekali memberikan arahan. Mungkin hal ini juga tidak diperlukan karena FX ini dilengkapi dengan kamera mundur serta sensor parkir.

So apakah FX37S ini worth the buy? Hmmmm saya pribadi akan memilih opsi merek asal Bavaria dengan harga yang sama dan tampilan lebih konservatif. Mungkin bagi seseorang yang tidak ingin tampil pasaran menjadi opsi yang baik.  Satu hal yang hampir saya lupa. Pengalaman masuk ke showroom Infiniti adalah hal yang sedikit berbeda dibandingkan kita masuk showroom kendaraan lain. Disini terasa premium service dan juga tampilan yang seperti sebuah art gallery. So if you want to have a different experience and drive something different than the Infiniti would be your option.

183 191 206 IMG_1657 IMG_1678 IMG_1679 IMG_1708 IMG_1714

Test Drive: Ford Focus 2.0L Titanium (sedan), biarkan kendaraan menuntun Anda.

17_1_2013 004Walau sudah lama saya lakukan review terhadap mobil ini namun baru sekarang saya sempat untuk menulisnya di blog saya.  Anda mungkin pernah melihat iklan Ford Focus bisa berhenti tanpa menginjak rem serta memarkir sendiri dan itu juga telah menjadi target saya untuk mengenal Ford Focus ini dengan lebih mendalam.

Ford Focus yang sekarang masuk ke dalam generasi ketiga dari Ford Focus dan kita lihat dia mengalami pembesaran ukuran dari versi sebelumnya. Yang menarik adalah bahwa dengan Ford Focus yang ketiga maka versi Focus Eropa dan Focus Amerika Serikat sudah tidak ada. Dimana sebelumnya memang ada dua versi dari Ford Focus yang beredar.

Kiri: Focus generasi ke-2 European versionKanan: Focus generasi ke-2 US version

Kiri: Focus generasi ke-2 European version
Kanan: Focus generasi ke-2 US version

Kita lihat sangat berbeda aspek desain dari US  dan European version dimana selera Eropa biasanya berupa kendaraan yang kompak, sporty dengan handling yang luar biasa sementara US lebih kearah elegan atau mewah dan kecenderungan tidak memikirkan ride and handling yang memadai.  Masalah ride and handling memang menjadi hal yang jadi main selling point dari Ford Focus terutama versi pertama dan kedua di Eropa namun dengan versi ketiga yang harus kompromi dengan dua benua yang berbeda maka Ford Focus yang sekarang bisa dikatakan sedikit lebih empuk suspensinya, masih ada rasa grip yang luar biasa kuat namun bantingan dari Focus gen-3 ini jauh lebih nyaman dan hal ini dibuktikan pada saat dikendarai di fly over Antasari yang memang merupakan jalan yang bumpy dan benar-benar bisa menguji kenyamanan suspensi suatu kendaraan.

Dari sisi eksterior generasi ke-3 ini memang terlihat besar yaitu panjang keseluruhan 4534mm, lebar 1831mm, tinggi 1483mm dengan jarak sumbu roda 2648mm membuat dia lebih pendek 6mm dari Corolla Altis dan Civic namun lebih lebar +70mm dari keduanya dengan jarak sumbu roda yang lebih panjang 48mm sehingga lebih lega dari segi legroom dan kenyamanan berkendara.

IMG_143617_1_2013 023

Ruang bagasi dari Ford Focus Sedan cukup fleksibel dan lega dan mampu membawa peralatan / bagasi kita pada saat mudik. Penggunaan material interior dari Focus Sedan juga sangat baik terutama dalam spek Titanium ini yang menggunakan bahan kulit untuk keseluruhan joknya serta dilengkapi sunroof dan electric adjusted seating. Yang mungkin sedikit disayangkan tidak adanya pilihan warna interior selain beige. Memang warna beige membuat interior terasa lebih lega namun juga menjadi cepat kotor. Saya pribadi lebih senang dengan interior yang hitam dengan eksterior yang terang agar memberi rasa kontras yang baik. Desain jok depan sangat ergonomis dan nyaman dan tidak terasa letih pada saat perjalanan jarak jauh, namun memang pengemudi pasti mempunyai selera berkendara yang berbeda-beda dan menurut saya sendiri jok depan kurang dapat diturunkan sejauh mungkin agar ada rasa seperti dibekap didalam kendaraan.

17_1_2013 006

 

Material dasbor yang digunakan merupakan soft touch sehingga tidak ada kesan murahan dari dasbor Ford Focus Titanium namun mungkin desainnya sendiri membutuhkan sedikit waktu agar kita menyenanginya. Bagi gadget freaks mungkin sangat senang karena desain yang sangat berbeda bahkan tombol di console tengah membuatnya seperti sebuah gadget yang besar namun bagi calon pemilik yang konservatif akan kesulitan menggunakan / mengoperasikan beberapa fungsi tombol pada Ford Focus ini.

17_1_2013 008 17_1_2013 012Selain monitor ditengah yang dapat menampilkan berbagai informasi kendaraan serta tampilan SYNC, pada Focus ini juga diberikan Multi Information Display pada cluster instrument yang sangat informatif dan lengkap, bahkan tampilan detail sangat menarik. Di MID tersebut kita dapat mengubah berbagai macam setting atau menentukan informasi apa saja yang ingin kita tampilkan hanya dengan toggling pada tombol setir dan tombol setir juga dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dinavigasi dengan berbagai macam arah. Bisa dikatakan mirip dengan i-Drive pada BMW namun bendanya diletakkan pada setir dan consol tengah di Head Unit.

Ada satu tampilan yang menarik pada MID di Focus yaitu masalah konsumsi bensin. Hal ini sangat penting karena kita selalu dijebak kemacetan dan kita tentu ingin tahu seberapa boroskah kendaraan kita. Salah satu yang menarik adalah tampilan konsumsi bensin per jam. Ini terlihat pada saat saya bermacet ria di tol JORR dan kemudian indikator menunjukkan berapa konsumsi saya per jam karena diam di jalan. Bayangkan bahwa 1,2 liter bensin bisa habis dalam waktu 1 jam apa jadinya kalau kita berhenti sampai 6 jam karena macet dan hanya membuang bensin dengan percuma.

17_1_2013 030

Tapi selain penampilan informasi seperti ini hal yang menarik dari Ford Focus tentu adalah penggunaan Active Park Assist dimana kendaraan akan mencari parkiran paralel yang kira-kira cukup lega untuk Focus dan akan memarkirkan secara otomatis. Caranya adalah pada saat kita mau memarkir secara paralel kita tekan tombol P pada dasbor dimana nanti kendaraan akan melakukan scanning ke semua ruang yang ada pada sisi jalan untuk bisa parkir paralel. Bila kendaraan menemukan space yang sesuai maka pada dasbor tengah akan tampil informasi bahwa ruang parkir ditemukan dan diminta memindahkan posisi transmisi dari D ke R (dalam hal ini versi otomatis) dan kemudia perlahan melepas rem. Kita cukup membiarkan magic berjalan dan kendaraan akan memposisikan diri kedalam ruang parkir. Saya sendiri sempat agak takut juga takutnya si Focus menabrak kendaraan dibelakang karena mundurnya cukup cepat.

Namun disini kita dituntut untuk tetap waspada dengan meletakkan kaki kita secara standby di rem. Setelah kendaraan memposisikan diri maka tinggal memindahkan dari R ke D agar kendaraan dapat merapihkan parkirnya.

Selain dari Active Park Assist, Focus juga dilengkapi dengan Active City Stop dimana kendaraan akan melakukan pengereman secara otomatis pada saat dia mendeteksi ada kendaraan melambat atau berhenti didepan kita dan kita diindikasikan tidak melakukan pengereman. Tadinya saya berpikir tidak bisa merasakan Active City Stop di Jakarta namun ternyata ada momen dimana sensor ini ternyata dapat aktif. Hal ini terjadi karena ada motor tiba-tiba melaju didepan saya dan kemudian rem mendadak. Sehingga Focus otomatis melakukan pengereman. Jadi kesimpulannya adalah bahwa sensor ini cukup berguna di Jakarta.

Selain keamanan aktif, Focus juga dilengkapi berbagai macam perlengkapan keamanan seperti 6 airbags,  Electronic Stability Control, ABS-EBD dan BA, Hill Assist, Blind Spot Information System (BLIS) etc. Mesin sendiri menggunakan dua versi yaitu 1.6 liter dan 2.0 liter. Dalam hal ini Focus dilengkapi dengan mesin 2.0 liter, DOHC Ti-VCT GDI empat silinder yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 170 PS pada 6600 rpm dengan torsi puncak 202 Nm pada 4450 rpm.  Harga yang diminta untuk Ford Focus Titanium adalah sebesar Rp 370 juta on the road, masih lebih murah dibanding pesaing Jepang.

17_1_2013 027 17_1_2013 025 17_1_2013 019 17_1_2013 016 17_1_2013 014 IMG_1452
IMG_1422 IMG_1423 IMG_1427

IMG_1426 IMG_1429 IMG_1430 17_1_2013 007

 

Test Drive: BMW 328i Sport Line. The ultimate driving machine connecting with you.

BMW 009Sejak Seri 3 diluncurkan pada tahun 1975, maka tipe ini selalu menjadi tambang emas bagi BMW dimanapun di dunia dan tidak dipungkiri di Indonesia. BMW Seri 3 selalu menjadi benchmark mengenai sedan sport sejati dan inipun terlihat di tipe terbaru BMW Seri 3 F30. Disini saya diberikan kesempatan mencoba BMW 328i dengan Sport Line trim dimana saat ini ada dua line yaitu Sport Line dan Luxury Line. Seperti sedan BMW yang lain dan terutama seri 3 maka kenikmatan berkendara sangat diutamakan dan itu juga terasa di BMW 328i terbaru ini. Ukuran yang juga lebih membesar dibanding pendahulunya memberikan kelegaan pada bagasi dan juga tempat duduk belakang. Kini dengan panjang 4624mm, lebar 1811mm dan jarak sumbu roda 281o mm bisa dikatakan BMW Seri 3 yang sekarang tumbuh lebih besar setara dengan BMW seri 5 E39 yang muncul pada tahun 97-2004.

BMW 030

Walau seri 3 yang lebih besar namun tetap terasa sangat kompak dan lincah di jalan.  Dibalik bonnet depan yang panjang ternyata tersimpan mesin baru khusus untuk 328i ini. Biasanya tipe terdahulu yaitu BMW 325i E90 LCI terpasang mesin enam silinder segaris yang merupakan mesin khas BMW. Suara raungan enam silinder selalu membuat penggemar BMW hatinya berdebar mendengar dia berakselerasi dengan kuat.

Namun dalam rangka penghematan BBM serta mengikuti trend  downsizing maka kini BMW meletakkan mesin 2.0 liter empat silinder dengan teknologi Twin Power Turbo dimana pada mesin kecil ini terpasang twin scroll turbo yang dapat menghasilkan tenaga yang luar biasa. Dan bisa dikatakan mesin baru ini justru lebih bertenaga dibanding versi enam silinder dengan tenaga 245 hp yang dikeluarkan pada putaran 5000-6000 rpm dan torsi maksimal 350Nm pada 1250-4800rpm. Tenaga ini sangat luar biasa dan kombinasi transmisi steptronic delapan percepatan semakin membuat 328i mantap dikendarai dan berakselerasi dengan halus dan presisi.

Dari segi pengendalian BMW Seri 3 ini dilengkapi dengan Driving Dynamics yaitu pemanfaat Adaptive Suspension dengan settingan Sport, Sport + atau Comfort dimana dengan merubah setting tersebut maka pengendalian juga akan semakin tajam. Hal ini terasa betul pada saat memindahkan posisi Comfort ke Sport atau Sport + yang langsung menjadikan suspensi lebih keras dari biasanya. Namun walau dalam posisi Sport suspensi kini lebih keras dan kaku sehingga mendapatkan kestabilan yang lebih baik, namun suspensi dari F30 ini masih bisa dikatakan nyaman untuk penggunaan sehari-hari. Dibandingkan versi E90 M-Sport edition makaF30 ini mempunyai karakter suspensi yang jauh lebih lembut dan nyaman.

BMW 027Ada juga satu hal yang berbeda dari F30 ini adalah pemasangan Connected Drive dimana sebelumnya hal ini merupakan standar di kelas yang lebih tinggi, namun disini BMW Indonesia sangat royal dalam pencontrengan spesifikasi sehingga Connected Drive dijadikan standar dalam semua seri 3. Connected Drive ini digabungkan dengan sistem i-Drive yang telah merevolusionerkan ide penyatuan pengaturan kendaraan melalui satu tombol atau interface. Pada saat pertama kali diluncurkan di 2002 didalam BMW Seri 7 E66 masih merupakan sistem yang sangat rumit untuk digunakan dan belum user friendly dan sekian lama BMW mencoba memperbaiki sistem tsb sehingga didapat kini sistem i-Drive yang paling sempurna. Yang menarik adalah bahwa ternyata dibutuhkan hanya tombol “kembali” untuk semakin mempermudah sistem i-Drive.

Di BMW Seri 3 terbaru ini dilengkapi juga dengan BMW Navigation Professional yang semakin mempermudah kita dalam menentukan arah perjalanan. Yang menarik dari sistem navigasi BMW ini adalah tersedianya tampilan perspective 3 Dimensi yang menampilkan gedung-gedung yang cukup dikenal di Jakarta sehingga kemungkinan tersasar semakin sedikit, satu hal yang menarik juga adalah penampilan beberapa route mulai dari Short Route, Fastest Route dan ECO PRO route. Dimana bila kita masuk ke ECO PRO akan ditampilkan rute paling efisien dengan BBM paling sedikit. Sayangnya belum dapat ditampilkan traffic update namun waktu tempuh dan ketibaan termasuk cukup akurat dibanding dengan beberapa GPS Handheld yang banyak dijual di pasaran.

IMG_1471

 

Selain berbagai macam rute, BMW Navigation Professional juga memberikan tampilan Junction View dimana kecil kemungkinan kita masuk ke ramp yang salah serta masih adanya tampilan arahan didasbor sehingga kita tidak selalu harus mengalihkan pandangan ke layar 8.8 inci yang tersedia di tengah. Layar ini sendiri memberi penampilan seperti i-pad terpasang pada dasbor dan mempunyai resolusi yang cukup tajam.

BMW 033

 

Sistem tata suara Harman Kardon yang terpasang pada 328i ini juga semakin menambah tingkat kenyamanan selama berkendara. Hal yang juga termasuk unik pada BMW adalah tombol preset station yang selama ini kita kenal bukan sekedar dapat menyimpan stasiun radio kesayangan kita namun dapat menyimpan settingan kendaraan yang kita inginkan seperti tombol 1 dapat kita atur agar menampilkan peta dalam perspective, tombol 2 untuk setting suara terbaik, tombol 3 menelpon ke rumah dst.

Selain kenyamanan tata suara ada satu fitur kenyamanan yang mungkin belum terpasang di kendaraan sejenis yaitu adanya Comfort Access terhadap bagasi dimana kita cukup “menendang” bagian bawah bumper belakang sehingga bagasi bisa terbuka tanpa perlu memencet tombol atau buka kunci. Hal ini sangat berguna kalau kita sehabis belanja atau bawa barang bawaan yang banyak dan kesulitan meraih kunci.

IMG_1475Seperti diungkap sebelumnya, ada dua trim dari BMW 328i ini yaitu Sport Line dan Luxury Line dan bedanya adalah bahwa pad Sport Line maka tampilan velg 18 inci mempunyai bentuk yang lebih sporty, penggunaan black high gloss window frame serta kaca spion berkelir hitam semakin menampilkan kesportian dari seri 3. Grill dengan delapan bilah dan high gloss hitam membuat tampilan semakin sporty. Dari sisi interior penggunaan sport seats dengan jahitan merah dan dasbor dengan lingkaran merah semakin membuat tampilan sporty. Dan tampilan trim alumnium semakin memperkuat hal tersebut.

BMW 008

 

Untuk Luxury Line dia akan mempunyai tampilan bilah chrome sebanyak 11 buah sehingga memberi tampilan yang elegan, pelek multi spoke dan tampilan interior dengan wood trim serta pilihan warna jok sebanyak 4 buah semakin menambah kemewahan dari Luxury Line. Baik Luxury dan Sport Line pada 328i dihargai sama yaitu sebesar Rp 729.000.000 off the road.

Oh ya, ada sedikit coba-coba dari saya dan teman-teman yaitu rencananya akan saya coba buat video review dari yang dilakukan selama ini dan ini hanya ujicoba so hopefully you enjoy the teaser.

BMW 014 IMG_1463 IMG_1465 IMG_1467

 

Fuel consumption
Urban in l/100 km 8.2-8.4 [7.7-7.9]
Extra-urban in l/100 km 4.9-5.0 [4.8-4.9]
Combined in l/100 km 6.1-6.3 [5.9-6.0]
CO2 emissions in g/km 144-147 [138-141]
Tank capacity, approx. in l 60
Performance
Top speed in km/h 235 [235]
Acceleration 0–100 km/h in s 7.3 [7.6]
Weight
Unladen weight EU in kg 1,475 [1,495]
Max. permissible weight in kg 1,950 [1,970]
Permitted load in kg 550
Permitted axle load front/rear in kg 905 [1,125]
Engine
Cylinders/valves 4/4
Capacity in ccm 1,997
Stroke/bore in mm 90.1 / 84.0
Max. output in kW (hp) at 1/min 135 (184) / 5,000
Max. torque in Nm at 1/min 270 / 1,250-4,500
Compression ratio : 1 11.0

 

Test Drive: VW Polo 1.4 A/T

Mohon maaf atas tidak adanya foto khusus dari VW Polo pada saat review berhubung saat itu Jakarta dilanda hujan deras dan pada saat peminjaman tidak memungkinkan dilakukan sesi foto. Namun saya coba bahas sedikit mengenai VW Polo yang mulai menjadi sedikit populer di Jakarta dan dipasarkan oleh VW sebagai My First German Car atau mobil Jerman saya yang pertama. Saya sendiri mengingat VW Polo sewaktu masih tinggal di Belanda yaitu VW Polo Mk1 dan VW Polo Mk2. Kebetulan ayah saya memiliki versi Coupe yaitu VW Derby

Polo mk fam

Kiri atas: VW Polo Mk1 Coupe, Kanan atas : VW Polo Mk2 Wagon                                                                                             Kiri bawah VW Derby , Kanan bawah: VW Polo Mk2 CoupVW Polo Mk 1

VW Polo Mk1 dan VW Derby dikeluarkan pada tahun 1975 sampai dengan 1979 dan VW Polo Mk2 diproduksi dari 1981 sampai dengan 1990. Polo sendiri mengalami beberapa kali perubahan hingga yang saat ini generasi ke 5 dengan kode Typ 6R.

VW Polo sendiri merupakan kendaraan segmen B atau small hatchback dan di Eropa berhadapan secara langsung dengan Ford Fiesta, Opel Corsa, Renault Clio dan Peugeot 207.  Seiring perkembangan maka kendaraan juga semakin besar dan ini jelas terlihat pada VW Polo yang sekarang yang mempunyai ukuran yang cukup mumpuni yaitu panjang keseluruhan 3970mm, lebar 1901mm dan tinggi 1682 mm digabung dengan jarak sumbu roda 2470mm bisa dikatakan cukup lega buat kendaraan kompak.

Di Indonesia tentu kendaraan ini akan berhadapan langsung dengan Honda Jazz atau Toyota Yaris serta Swift dan kalau lihat kapasitas mesinnya yang 1.4 liter empat silinder direct injection yang dapat menghasilkan tenaga 85 hp pada 5000 rpm dan torsi maksimum 132Nm pada 3800rpm tentu bisa dianggap kalah dibanding kompetitor Jepang, namun mesin ini dilengkapi dengan transmisi 7-speed DSG yang merupakan salah satu transmisi semi otomatik terbaik didunia dengan sistem Dual Clutch Gearbox. Perpindahan gigi termasuk akurat dan cepat dan tenaga yang dihasilkan VW Polo ini cukup mumpuni walau pada saat kita diam ingin bergerak ada terasa seperti turbo lag atau pelan. Namun setelah kita bisa mencapai torsi maksimum kendaraan ini dapat melaju dengan sangat baik. Kecepatan maksimal bisa mencapai 177 km/jam dengan akselerasi 11,9 detik dari 0-100km/jam cukup mengesankan. Memang disayangkan bukan versi 1.2 TSI yang dipasarkan di Indonesia dan hanya versi 1.4 MPI. Namun seperti kendaraan Jerman pada umumnya membawa kendaraan kompak ini pada kecepatan tinggi cukup aman dan tetap stabil.

Yang paling mengesankan dari VW adalah tingkat kualitas pembuatan kendaraan yang masih belum tersaingi perusahaan lain dan hal ini juga berlaku bagi VW. Desain dasbor yang sederhana namun dengan penggunaan material yang berkualitas tinggi seperti penggunaan soft touch dashboard dan penambahan damper pada glovebox membuat kendaraan kompak ini seperti kendaraan premium. Penggunaan jok yang sangat ergonomis menambah kenikmatan berkendara serta adanya pengaturan reach and rake pada setir menambah mudah mendapatkan posisi duduk yang terbaik. Duduk di kursi belakang bisa dikatakan cukup bila membawa 2 orang dewasa atau sekedar membawa dua anak kalau masih merupakan keluarga kecil.

Yang tidak bisa dipungkiri adalah fitur keamanan yang tersedia di VW Polo mulai dari dual airbag, ABS, EBD, serta adanya ESP sebagai fitur standar. Velg 15 inci yang tersemat pada Polo membuatnya terlihat sporty namun tetap elegan. Grip dari ban ini cukup baik dan terasa cukup menyenangkan bila dibawa dijalanan berkelok, ada sedikit understeer dan torsi yang kecil memang memaksa kita untuk harus “tega membejek” mesin 1.4 liternya namun untuk penggunaan sehari-hari saya kira VW Polo termasuk cukup baik.

Dari segi harga, hmmmm memang agak mahal dengan harga OTR sebesar Rp 235 juta, namun yang harus diingat ini adalah kendaraan Jerman dengan kualitas buatan yang tinggi serta fitur keamanan yang cukup mumpuni. Yang tidak didapat dari kendaraan Jepang adalah “the brand” yang terlihat bergengsi dibanding merek sejuta umat. Namun itu adalah selera dari masing-masing pembeli.

Bila anda ingin menikmati kendaraan dan tidak memikirkan untuk langsung menjual silahkan ambil VW Polo, bila pertimbangan Anda sebelum membeli kendaraan adalah menjualnya kembali nah lebih baik ambillah kendaraan Jepang.

Test Drive: Chevrolet Orlando LT, a new way of fun.

Identitas khas Chevrolet pada bagian muka.

“Fun is for Everyone” adalah salah satu tagline dari Chevrolet Orlando LT, dan mungkin dapat kita lihat belakangan ini iklan serta promosi dari Chevrolet sendiri menonjolkan sisi fun serta dinamis dari produk-produk Chevrolet terbaru seperti New Aveo, Orlando, Captiva serta Colorado. Ada perubahan desain yang signifikan dari Chevrolet dimana lebih menangkap selera global dibanding selera Amerika yang biasanya berpenampilan mengotak dan kadang kurang pas desainnya.

Chevrolet Orlando LT ini sendiri adalah MPV yang didesain oleh Chevrolet dengan tujuan memberikan sesuatu yang berbeda dari segmen MPV yang notabene adalah People Mover yang membutuhkan fungsionalitas yang tinggi yang biasanya mengorbankan sisi desain. Biasanya MPV akan berpenampilan mengotak atau cenderung membulat namun tidak pernah membuat hati bergetar bila melihat MPV. Orlando sendiri didesain dengan penampilan yang macho khas Amerika dengan sedikit mengotak dan ada kecenderungan berpenampilan seperti SUV. Tampilan bagian depan khas Chevrolet dengan double bow tie khas Chevrolet serta grill yang sudah menjadi trademark dari sebuah Chevy dan ini kelihatan di produk-produk mereka yang lain.

Dari samping kita lihat ada kecenderungan berpenampilan seperti sebuah SUV / Cross-Over dengan garis bahu tinggi yang memberi gambaran kokoh. Ditambah bidang kaca yang kecil memberi kesan ini adalah kendaraan yang tahan dibanting. Bagian belakang bisa dikatakan antara suka dan tidak dengan desain yang sangat mengotak dan lampu dengan posisi horizontal dimana sangat terlihat seperti sebuah SUV.

Tampilan belakang yang memberi kesan seperti sebuah SUV

Lampu mundur yang terletak dibagian tengah memberi penampilan yang sedikit berbeda serta adanya protector bawah pada bemper depan dan belakang menambah kesan sebagai sebuah kendaraan multi guna yang dapat digunakan di medan yang berat. Ingat “kesannya” seperti itu, jangan harap membawa Orlando ke Off Road beneran.

Dari segi ukuran Chevrolet Orlando termasuk sedang dengan panjang bodi sekitar 4652mm,  lebar sekitar 1836mm, tinggi 1633mm serta jarak sumbu roda 2760mm membuat Orlando kelihatan lebih besar dibanding MPV yang beredar seperti Toyota Kijang Innova, Proton Exora, Honda Freed. Namun salah satu kehebatan dari Orlando adalah walau besar namun tidak terasa seperti membawa kendaraan yang sangat besar. Memang dari interior agak sedikit lebih kecil daripada yang dibayangkan.

Desain dasbor yang berbeda dibanding MPV sejenis dengan center console yang panjang serta banyak tombol

Bila kita masuk ke interior dari Chevrolet Orlando yang kita perhatikan utama adalah bentuk dasbor yang berbeda dibanding MPV sejenis. Untuk kendaraan Amerika dapat dikatakan desain dasbor mengikuti selera Eropa yang dititikberatkan pada ergonomi dan fungsionalitas.

Center console yang panjang menyimpan climate control serta CD player serta Head-Unit yang diletakkan pada bagian atas central console dasbor yang terintegrasi dengan LCD screen yang menampilkan berbagai macam informasi seperti suhu kabin, radio, CD dsb, Satu hal yang menarik adalah banyaknya tempat penyimpanan didalam Chevrolet Orlando dan salah satunya adalah kompartemen rahasia di balik Head Unit yang sangat cocok untuk menyimpan telepon genggam atau barang berharga lainnya.

Kompartemen Rahasia dibalik Head Unit…contoh buat meletakkan dompet

Jok depan dan belakang dari Orlando dapat dikatakan cukup baik. Agak sedikit keras pada perjalanan panjang khususnya di bagian tengah namun mungkin ini adalah ciri dari kendaraan Eropa yang memang cenderung mempunyai jok yang lebih keras karena utk ergonomi badan. Pada saat kita berbelok memang sedikit terasa kita kurang begitu dipegang oleh jok depan Orlando namun masih dapat dikatakan berkecukupan. Yang diingat MPV bukanlah sedan sport.

Jok depan yang cukup nyaman dan tebal namun mungkin harus ditambah sedikit lagi bantalan pada sisi agar terasa mendekap

Yang sedikit disayangkan jok tidak dilapis dengan kulit dimana akan terasa kemewahan dari Orlando, mengingat dari segi harga juga cukup tinggi yaitu Rp 330,000,000,0 on the road. Fleksibilitas dari interior Orlando juga cukup baik dimana jok ketiga dapat dilipat dengan rata sehingga mendapatkan luas area bagasi yang lebih besar, dan ini sangat berguna kalau kita lagi mau pindahan atau yang lain hal.

Satu hal yang juga sedikit disayangkan adalah tidak adanya saluran AC bagi jok baris ketiga sehingga takutnya ada terasa panas dan sumpek pada saat kita berkendara di tengah siang hari bolong.

 

Pelipatan jok yang rata

Tentu MPV seperti ini kita ingin tahu seperti apa rasanya berkendara dan bagaimana performanya. Mesin yang diusung Orlando adalah mesin 1.8 liter DOHC, 16 valve dengan DCVCP, MPI yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 141 PS pada 6200rpm serta torsi maksimum sebesar 176Nm pada 3800rpm. Dikombinasikan dengan transmisi otomatis 6 speed dengan GM Tiptronic. Maka tenaga yang dikeluarkan oleh Orlando dapat dikatakan memadai, tidak begitu menggetarkan namun halus pada saat kita berkendara di tol.

Mesin ECOTEC 1.8 Liter DOHC 16 valve menghasilkan 141PS/6200rpm dan 176Nm/3800rpm

Penggunaan velg 17 inci yang dikombinasikan dengan ban 225/50 R17 memberi grip yang baik serta handling yang memadai namun bantingan suspensi dapat dikatakan ada pada sisi yang sedikit terlalu keras. Mungkin kalau bisa mendapatkan settingan suspensi yang sedikit lembut akan terasa sangat nyaman.

 

Dari segi keamanan, Orlando dilengkapi dengan rem cakram pada keempat rodanya ditambah dengan Anti-Lock Braking System (ABS), Electronic Brakeforce Distribution (EBD) dan Brake Assist (BA), ditambah Electronic Stability Progran dengan Traction Control untuk memberi kestabilan pada saat manuver mendadak, Dual front SRS Airbag serta desain kap mesin yang sudah Pedestrian Safe.

Jadi kesimpulan untuk Orlando, ini adalah MPV yang mempunyai tampilan berbeda serta pengendalian yang cukup baik namun kalau bisa ada dari performa ditingkatkan agar driving pleasure lebih terasa. Dari segi harga mungkin agak tinggi dibanding MPV sejenis namun mungkin Orlando memang ditempatkan ke segmen market yang berbeda.