Road Tripping: Phuket 3 days (Part 1)

Well sudah lama saya tidak menulis perihal travelling dan sekarang saya coba saja menulis mengenai pengalaman Road Tripping selama saya berada di Phuket, Thailand. Ini adalah pertama kali saya pergi ke Phuket yaitu tanggal 27 Mei s/d 30 Mei 2012. Saya road tripping sendiri karena ada beberapa teman yang tidak jadi ikut namun the show must still go on. Tickets have been paid, hotel have been booked.

Dengan menggunakan pesawat Air Asia berangkat dari Terminal 3, Soekarno-Hatta dibutuhkan setidaknya 3 jam penerbangan ke Phuket, Thailand. Karena ini merupakan pertama kalinya saya kesana jadi sedikit ada rasa deg-degan dan juga pemikiran apa yang mau dilihat namun saya sudah melakukan desktop research lebih awal (halah udah kayak kerjaan aja). Setidaknya sudah dilakukan pencarian hotel melalui Agoda. (Cari yang termurah dengan fasilitas memadai dan dekat dengan tempat hiburan) dan yang pasti melihat bagaimana transport disana.

Kebiasaan saya yang suka menyetir sendiri karena merasa lebih bisa explor suatu daerah. Dan ini sudah saya lakukan sewaktu Road Tripping di Eropa dan akhirnya saya memutuskan untuk melakukan Road Tripping di Phuket dan melihat apa yang kira-kira menarik yang bisa dilihat. Setelah melakukan pencarian yang seksama untuk perusahaan rental saya mendapatkan SIXT sebagai salah satu rental dengan harga yang memadai.

Sixt sendiri merupakan perusahaan rental dari Jerman dan bisa diakses dengan sangat mudah melalui Sixt.com, salah satu kelebihan dari Sixt adalah fleet kendaraan yang mereka yang sangat muda dan bahkan baru. Kalau di Eropa anda bisa menyetir BMW dan Mercedes terbaru dengan harga yang memadai. Di Thailan sendiri karena saya hanya seorang akhirnya memutuskan mengambil Honda Brio 1.2 CVT di Sixt (lihat test drive saya https://ariefinm.wordpress.com/2012/06/08/test-drive-honda-brio-1-2-i-vtec-cvt-sang-raja-kecil/)

Biaya sewa selama 3 hari adalah sebesar Rp 1,2 juta dan saya kira masih memadai mengingat luas Phuket sendiri kira-kira 543km per segi atau lebih kecil daripada kota DKI Jakarta yang mempunyai luas 661 km per segi ataupun Singapura.  Dan saya yakin ada banyak hal yang bisa dilihat di Phuket.

Booking kendaraan sudah OK melalui website (ditambah saya mempunyai loyalty card jadi semakin mudah melakukan booking), hotel sudah dibook, peta jalan sudah di print (setidaknya dari googlemaps ambil peta dari airport ke hotel) just in case GPS saya tidak bekerja dengan baik (dan itu pun terjadi) dan hanya tinggal menunggu jalan ke Phuket.

Setelah terbang selama 3 jam dan dengan sedikit delay juga pada saat berangkat, maka saya tiba kira-kira pukul 19.3o di Phuket. Di counter imigrasi masih diharuskan mengisi embarkation card dan itu pun tidak diberikan didalam pesawat dimana akhirnya harus kasak kusuk nanya dimana ada embarkation card. Setelah terisi dan melewati imigrasi, saya menuju ke counter Sixt di Phuket Airport. Harap diingat bahwa keadaan di Phuket Airport tidak berbeda jauh dengan Soekarno Hatta dengan banyaknya tawaran taksi ataupun sewa kendaraan. Namun saya dengan yakin tetap menuju counter Sixt, setibanya disana tentu saya menanyakan reservasi saya dengan menunjukkan print reservasi. Namun masalah mulai datang dimana penjaga counter ternyata tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya bisa bahasa Thailand. Akhirnya dengan sedikit bahasa Tarzan semua terselesaikan dengan baik dan saya ditunjuk ke Honda Brio berwarna putih yang relatif baru.

Hal yang pertama yang dilakukan adalah melakukan pemeriksaan kendaraan dengan seksama, jangan sampai ada lecet-lecet atau penyok yang diklaim tiba-tiba oleh perusahaan rental dan ditagihkan kepada kartu kredit kita (hal ini suka dilakukan di beberapa rental nakal). Setelah semua diperiksa dengan baik langsung saya coba pasang GPS yang sudah saya miliki lama yaitu Mio C230 dan mencoba memasukkan alamat hotel yaitu The Gallery Hotel di 10 Rat U Third 2oo – Pee Soi 1, Patong, Phuket. Cukup panjang alamatnya dan apesnya si GPS juga bodoh hanya bisa diinput dengan bahasa Thailand. Entah darimana pemikiran Mio kita memasukkan alamat dalam bahasa Thailand kalau kita ada di Thailand.

Beruntung sempat dibuat cetakan dalam googlemaps dan akhirnya melakukan cara lama dengan melihat papan jalan menuju Patong. Patong sendiri berjarak kira-kira 30 km dari bandara dan perlu setidaknya 45 menit untuk jalan kesana. Semakin apesnya karena tiba malam ditambah dengan hujan sehingga makin bingung dalam menentukan arah. GPS saya pakai hanya sebagai patokan jalan saja.

Karena malam tentu tidak banyak yang bisa diceritakan namun yang pasti pengemudi di Thailand cenderung berjalan cepat namun santai. Jadi kalau ada kendaraan didepan mereka yang pelan mereka tidak serta merta menyalip dari kiri atau klakson kita. Perjalanan yang seharusnya 45 menit akhirnya memakan waktu 1 jam 30 menit karena sempat menyasar ke tempat yang lain dan juga salah mengambil jalan.  Perjalanan dari bandara ke Patong pada awalnya membosankan karena hanya jalan-jalan lurus dan juga hujan. Namun setiba kita mau memasuki Patong City ada beberapa jalan menanjak ekstrem dengan tikungan yang juga ekstrem yang merupakan tantangan bagi Petrol Head sejati. Very cool road entering the City. Ditambah ada papan Patong City yang berbentuk menyerupai Gotham City.

Memasuki Patong City seperti memasuki daerah Kuta di Bali, sangat ramai dengan turis dan segala macam jualan dsb. Yang paling menonjol sangat banyak ditawarkan massage Thai. Dan itu pun buka sampai malam.

Tantangan berikutnya adalah mencari hotel saya, dan itu pun ditambah dengan tulisan Thai yang gak jelas semakin mempersulit mencari gang tersebut. Setelah melakukan orientasi beberapa kali maka akhirnya ketemulah dengan The Gallery Hotel. Dan bersyukur ada sedikit tempat parkir dimana saya bisa meletakkan kendaraan. Hotel tersebut lumayan strategis dan bersih karena berada di pusat keramaian di Patong (akan diceritakan di part yang lain :P)

Cek in bisa dikatakan lancar walau sedikit aneh karena dimintakan deposit kunci oleh sang resepsionis namun lumayan bisa dianggap sebagai tabungan akhir di Phuket :).

Masuk hotel tentu yang dilakukan adalah mandi terlebih dahulu dan istirahat setelah penerbangan melelahkan selama 3 jam ditambah berjalan melalui darat dengan menyasar dan keadaan hujan yang semakin membuat males keluar. So hopefully besok akan menjadi hari yang lebih indah.

Cerita berikutnya di Part 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s