Apa yang diperlukan untuk membangun mobil nasional? Contoh PROTON

Belakangan ini kita melihat semakin gencarnya ide dari Mobil Nasional (Mobnas). Mulai dari KIAT ESEMKA yang dirakit oleh anak-anak SMK sampai mobil listrik yang dibuat di Depok dan telah diuji oleh pak Dahlan Iskan. Namun satu hal yang kita lihat adalah bahwa semua produk nasional yang digelontorkan masih prototipe atau hanya terbuat dalam jumlah terbatas. Dan ini tidak dapat dikatakan sebagai suatu mobil nasional.

Bila mau membangun industri mobil nasional sebaiknya pemerintah harus mempunyai niatan yang besar, investasi yang tidak sedikit serta terutama mempersiapkan Sumber Daya Manusia terampil yang dapat mengisi lini pekerjaan dari mobil nasional tersebut. Sebenarnya kita tidak perlu terlalu jauh melihat ke Korea atau Jepang mengenai bagaimana membuat mobil nasional. Tapi cukup lihat tetangga dekat kita Malaysia dengan proyek mobil nasional mereka Perusahaan Otomobil Nasional (PROTON) .

Dan untuk hal ini pada tanggal 11-12 Juli lalu sejumlah media dari Indonesia diundang pihak PROTON untuk melihat bagaimana PROTON bekerja dan memproduksi kendaraan terutama setelah diambil alih oleh DRB-HICOM. 

PROTON sendiri berusia sangat dini untuk suatu brand otomotif yaitu 27 tahun. Pertama didirikan pada 7 Mei 1983 namun produksi kendaraan pertama ditelurkan pada 9 Juli 1985 yaitu Proton Saga oleh Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Mahatir Mohamad yang juga merupakan penggagas dari pembuatan PROTON.

Proton Saga sendiri merupakan rebadge dari Mitsubishi Lancer dan ini bukan hanya sekedar menempelkan emblem namun pihak Mitsubishi Corporation serta Mitsubishi Motors Corporation memang memberikan asistensi teknis kepada PROTON serta menjadi supplier komponen bagi PROTON.  Demi untuk dapat memproduksi kendaraan sesuai dengan permintaan maka dibangun pabrik Shah Alam dengan luas 923.900 meter persegi dan didesain awal untuk dapat memproduksi 80.000 kendaraan per tahun.

Dari Shah Alam maka ditelurkan beberapa tipe kendaraan PROTON seperti Saga, Waja, Satria, Wira, Iswara, Arena, Perdana V6 dan Juara. Semua merupakan hasil kerjasama dengan Mitsubishi. Pada tahun 1997 maka dilakukan perluasan lahan sehingga dapat memproduksi 230.000 unit kendaraan per tahun dengan pelaksaaan program Medium Volume Factory.

Pada tahun 1996, PROTON melakukan suatu langkah besar dengan membeli Lotus Group International Limited yang merupakan perusahaan rekayasa otomotif dari Inggris yang juga merupakan pembuat kendaraan sport. Dengan pembelian dari Grup Lotus maka terjadi peningkatan kemampuan rekayasa dari PROTON baik dari segi rancang bangun mesin, suspensi serta kendaraan itu sendiri.

Pada tahun 2000 PROTON berhasil mengembangkan mesin sendiri bersama dengan Lotus yaitu mesin CAMPRO yang didesain untuk dapat memenuhi semua uji emisi terkini.

Mesin CAMPRO sendiri dikembangkan dalam beberapa varian yaitu CAMPRO Generasi 1, CAMPRO IAFM, CAMPRO CPS, CAMPRO IAFM+ serta yang terkini adalah CAMPRO CFE yang merupakan mesin 1.6 L DOHC dengan turbocharger.

Pada tahun 2003. PROTON membangun pabrik yang kedua yaitu Tanjung Malim Plant yang terletak kira-kira 81 KM utara Kuala Lumpur di negara bagian Perak. Kapasitas produksi dari pabrik Tanjung Malim adalah 150.000 unit namun dapat dikembangkan menjadi 250.000 unit per tahun. Saat ini kapasitas produksi yang digunakan adalah baru 95.000 unit per tahun, jadi masih ada kemungkinan peningkatan produksi, terutama bila mengingat pasar Indonesia yang begitu besar.

Dengan perjalanan yang begitu singkat kita dapat melihat betapa besar investasi yang harus dilakukan bila memang berkeinginan membangun suatu industri otomotif kebanggan Indonesia. PROTON sendiri mengalami pasang surut terutama dengan diberlakukannya AFTA. Salah satu perubahan adalah pengambil alihan oleh DRB-HICOM sebagai pemegang saham terbesar dari PROTON. Besar harapan adalah dengan masuknya DRB-HICOM adalahnya adanya kinerja dan profesionalitas yang tinggi dari PROTON terutama perubahan karakter dari perusahaan BUMN menjadi perusahaan swasta murni.

Salah satu bukti juga dari perubahan PROTON dan melihat pentingnya menjadi pemain global adalah dengan diluncurkan MPV pertama PROTON yaitu Proton Exora pada tahun 2009 dimana pada tahun 2011 dilakukan facelift dan peluncuran dari versi baru Exora yaitu Exora Bold dengan mesin Campro CFE yang dapat mengeluarkan tenaga 138 hp dengan torsi 205Nm pada 2000-4000 rpm.  Exora Bold sendiri diperkirakan masuk Indonesia pada bulan Oktober 2012.

Produk global yang kedua yang baru diluncurkan adalah Proton Preve yang merupakan desain global pertama dari PROTON dan diharapkan dapat diterima dengan baik oleh pasar yang dituju. Proton Preve sendiri menggunakan sistem keselamatan yang tinggi dan bahkan akan mempunyai value for money yang tinggi bila masuk Indonesia pada bulan Januari 2013. Dengan tampilan yang modern dan feature yang lengkap tentu diharapkan dapat meningkatkan penjualan di Indonesia sendiri.

Bahkan sudah direncanakan akan dibuatnya kendaraan dengan teknologi Hybrid oleh PROTON.

Jadi kesimpulan yang dapat kita tarik adalah bahwa untuk membangun suatu industri mobil nasional kita memerlukan keseriusan yang sangat tinggi serta kemauan dari pemerintah dan masyarakat untuk membeli produk dalam negeri. Bahkan di Malaysia sendiri ada kesulitan meyakinkan masyarakat mereka akan kualitas dari PROTON namun seiring dengan berjalannya waktu PROTON sebagai perusahaan senantiasa berusaha memperbaiki diri dengan mengeluarkan kendaraan berkualitas dan harga terjangkau.

Saya sendiri lebih berkeyakinan daripada kita membangun mobnas masing-masing lebih baik mengembangkan kendaraan ASEAN yang dapat jadi kebanggan ASEAN, salah satunya mungkin dengan PROTON sebagai dasar mobil ASEAN dan Indonesia dapat menjadi pendukung dalam hal produsen OEM bagi PROTON atau ATPM lain. Pembagian produksi dan desain mungkin dapat dilakukan seperti Malaysia merupakan sentra produksi dan desain sedan PROTON dan Indonesia sebagai sentra dan produksi MPV-SUV serta Thailand khusus Pick-Up dsb.

 

Advertisements

3 thoughts on “Apa yang diperlukan untuk membangun mobil nasional? Contoh PROTON

  1. project ASEAN car sudah berdengung sejak dekade 1970-an…saya masih ada ngga ya storynya di Majalah Mobil dan Motor….tapi semuanya bergantung pada kesamaan pandangan dan komitmen yang tertuang dalam regulasi yang perlu diharmonisasikan antar negara. Menurut hemat saya, lebih baik fokus shortcut ke next step yang bernuansa future seperti eco car dengan semangat penghematan material maupun konsumsi energi. Semangat produksi Low Cost Green Car di Indonesia pun inline dengan hal tersebut, terdapat kesamaan pandangan dan geraklangkah dari petinggi APM besar untuk mewujudkannya dan ‘menagih’ transfer of knowledge yang lebih besar proporsinya ke Prinsipal. Jadi, sisi nasionalisme lebih mengemuka disini.

  2. Pemerintah yang menentukan sementara masyarakat memanfaatkan fasilitas. Selama ini pemerintah RI sudah merasa puas sebagai “tukang jahit” mobil ketimbang tukang bikin mobil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s